Kalau kata maaf dari orangtua yang menaruh beban terlalu tinggi kepada anak hanya ditemukan di film, lantas apa yang bisa diharapkan kejadian itu bisa terjadi dalam realitas yang sedang dijalani. Dimana anak dan orangtua saling jujur satu sama lain, bahwa ada kesalahan bersama dalam membangun komunikasi selama ini. Kesalahan yang harganya begitu mahal untuk ditebus, bahkan mungkin gak akan bisa mengembalikan banyaknya hal yang terjadi dalam kurun waktu yang begitu lama.
Termasuk, kehilangan yang dilewati dalam tahun-tahun terberat. Melihat tiga film yang membicarakan isu keluarga, relasi anak dan orang tua membuat gue gak hanya terharu tapi merasakan apa yang gue lihat. Ngeri-Ngeri Sedap, Lara Ati dan Gara-Gara Warisan. Tiga film yang karakter orang tua nya akhirnya membuka diri kepada anaknya dengan caranya masing-masing dalam mengakui kesalahan.
Andai saja hal seperti itu terjadi pada gue, sayangnya gue gak punya cukup nyali untuk ngajak orang tua gue ngomong serius ditengah ketidakjelasan hidup yang sedang gue jalani saat ini. Menyia-nyiakan waktu percuma dalam kegundahan hati, mencari cara paling mudah menyenangkan diri walau ujungnya hanya berbalut luka di hati.
Ia yang menulis tulisan ini pun gak lebih dari sekedar pengecut yang terus lari dari permasalahan hidupnya yang pelik, sejak saat itu hingga saat ini, seorang anak berusia 13 tahun hingga usianya yang ke 23 masih bingung menentukan pilihan dalam menyelesaikan rentetan masalah yang ia buat kala usianya masih belasan.
Bahkan untuk memaafkan diri sendiri aja gabisa, sudah berapa kali kekalahan, kehilangan yang dirasakan tak cukup membuatnya sadar bahwa yang terpenting adalah kebesaran hati, bahwa dalam hidup gak semua jalan akan selalu mulus seperti yang ia cita-citakan. Hal yang selalu ia impikan, membahagiakan banyak orang, yang dia sayang dan peduli. Naasnya ia tak kunjung menyadari bahwa gak semua harus dibahagiakan, jika dirinya sendiri belum menemui bahagianya, belum mau memaafkan semua kesalahan yang ia perbuat.
Lantas ingin mendapat kata maaf dari orangtuanya? Hidupnya saja belum menemui titik terang, tugas terakhir dalam masa kuliahnya belum juga diselesaikan, skripsi yang mangkrak sejak april lalu menghantuinya tiap hari dengan pelarian fana. Kini ia hanya bisa menulis hal bodoh seperti ini di blog.