Berpisah?

Perpisahan dan perubahan adalah hal yang paling gue benci, setiap dua hal itu datang rasanya ada yang berubah terlalu cepat, ketika perpisahan terjadi perubahan akan terasa. Begitu juga saat adanya perubahan kita tidak bisa memungkiri bahwa saat itulah juga terkadang akan terjadi sebuah perpisahan, apalagi dalam sebuah hubungan dua hal itu akan saling berkaitan.

Dalam kehidupan mungkin perubahan adalah sebuah hal wajar karena memang dibutuhkan oleh banyak orang, bayangin aja kalau kita punya sifat jelek masa nggak bisa berubah sih? Banyak hal yang terjadi di dunia ini, begitu juga dalam kehidupan gue, mulai dari yang senengnya, sampai sedihnya pun melengkapi sisa-sisa nafas yang tersisa, bersyukur juga sampai sekarang diberi kesempatan untuk menghirup udara/oksigen, setidaknya masih bisa menjalani hari-hari yang terkadang memang selalu membosankan.

Kalau ngomongin perpisahan dan perubahan hal pertama yang gue inget adalah perpisahan yang gue alami dengan sahabat-sahabat terdekat, yang dulunya adalah sahabat dari kecil lalu tiba-tiba harus menghilang untuk sesaat entah kapan atau bagaimana waktu bisa mempertemukan orang-orang yang harus berbeda jalan hidup, pernah gue sama temen-temen ngomongin soal perpisahan dan kesedihan karena nggak bisa ngeliat orang yang sama setiap harinya karena teman kita itu udah nggak bisa bareng-bareng lagi sama kita.

‘Yang namanya perpisahan itu nggak ada, kadang kita menganggap itu adalah hari dan waktu terakhir dimana kita bisa melihat orang yang mungkin nggak bakalan kita lihat lagi, tapi percaya atau tidak Tuhan punya rencana, dan kita nggak tau bentuknya seperti apa.’

‘Waktu dimana kita hanya bisa terdiam?’

‘Lebih tepatnya nggak bisa ngomong apa-apa, entah kenapa sulit buat kita bilang kalau kita kehilangan dia sebagai sosok teman,’

‘Nggak cuman temen sih, perpisahan juga terjadi kan sama anggota keluarga?’

‘Ada yang sesaat, atau bahkan selamanya nggak bakalan ketemu.’

‘Bener, perpisahan sesaat masih mending daripada perpisahan karena kematian, karena selamanya kita nggak bisa ngeliat orang yang pernah ada dalam hidup kita itu, untuk sekali lagi, kesempatannya udah ga ada.’

‘Terus apa yang harus dilakuin buat ngehindarin sedih karena perpisahan?’

‘Nggak ada, kita cuman perlu ngejalanin aja, karena memang itu yang kita bisa.’

Ngomongin soal temen, gue dulu punya sahabat kecil namanya Fajar, salah satu temen gue yang paling konyol, tapi dia juga yang bisa ngehibur gue ketika sedih, sekolah gue sekarang, dulunya juga sekolah dia, sebelum akhirnya dia pergi, sampai saat ini gue gak tau kabarnya.

Usia dia jauh lebih tua dari gue tiga tahun, lalu ada Indra sampai sekarang gue masih suka main ke rumahnya walaupun juga kita sama-sama sibuk dengan aktifitas sekolah masing-masing. 

Kemudian Yudha yang ini paling parah sih, kalau nakalnya tapi dia juga mau bekerja keras buat ngubah hidup lebih baik. Terakhir Gilang salah satu temen yang bisa dibilang lebih dewasa dari pada gue, Fajar, Yudha dan Indra dari kita berlima cuman Gilang yang bisa berfirkir lebih, saat kita kehilangan akal mau ngapain, kadang juga cuman rumah dia yang bisa kita tongkrongin tiap hari.

Dari mereka gue ngerti apa itu artinya persahabatan yaitu nggak boleh ninggalin siapapun saat susah maupun senang, nggak boleh lupa kalau mereka pernah ada dalam hidup kita, karena seorang sahabat akan dibutuhkan dan selalu menjadi tempat pulang ketika kita mempunyai masalah.

Posting Komentar

© #NoteAdit - Aditya Bintang Perdana. All rights reserved. ##