Tak Terdengar

 Kau terjatuh dalam jurang waktu,
Menahan sakit yang tak seperti biasanya.
Kepalamu serasa ingin meledak,
Kau sudah muak dengan lika-liku dunia nyata.
Akhirnya, kau memutuskan kembali
Ke dalam dunia mimpimu.
Dalam tenangnya malam,
Kau terdiam, terpaku dalam jiwa yang sepi.

Apa yang salah dengan semua ini?
Terasa bosan dalam hati,
Bosan dengan segala hal,
Dan orang-orang munafik di dunia.
Kau berpikir seakan segalanya terbalik,
Keras memang, namun kau harus tegar menghadapinya.

Dalam dunia nyata,
Kau anggap mereka hanyalah mimpi,
Mengabaikan segala yang menimpa dirimu.
Masalah hidupmu tak kunjung usai,
Sedangkan masalah lain mulai menghampiri.

Kau semakin terpuruk dalam diammu,
Menepi bersama jiwa yang sepi.
Mencoba berinteraksi dengan dirimu sendiri,
Menghindar dan memilih menyendiri,
Untuk waktu yang tak pernah kau hitung sebelumnya.

Merangkak masuk kembali dalam bayang semu kehidupan,
Dan mulai berkata pada diri sendiri:
"Tidak, ini tidak nyata.
I hate the world because of the people, not the life itself.
Aku hanya membenci cara orang-orang ini berinteraksi dan bermain peran dalam kebohongan."
Lalu kau pun berjalan mundur,
Tak seharusnya, namun perlahan pasti.

Kau mulai 'ingin' meninggalkan dunia
Yang tak menerimamu,
Mereka menghakimi segala keputusan yang kau buat,
Seakan kau hanya hidup sendiri dalam dunia ini.
Kau menangis sendiri,
Meratapi segala kisah pilu dalam hidupmu,
Dan mulai bertanya-tanya:

"Tuhan, mengapa saya diciptakan dan diturunkan ke bumi,
Jika pada akhirnya hanya akan kembali kepada-Mu?
Aku lelah dengan orang-orang ini.
Aku mencoba memahami mereka,
Namun mereka tak mau mencoba memahamiku.
Tuhan, tolong hadir di sini, temani saya,
Kuatkan hati yang mulai rapuh ini."

Kau menguatkan hati yang telah mati,
Namun pada akhirnya itu hanya menyiksa.
Tak ada arti nyata bagimu,
Segalanya telah usai dan kau harus memahaminya.
Menelan mentah-mentah hal yang tak kau ketahui sebelumnya,
Terpaksa dan dipaksa berbaur dalam dunia kelam.

Kau diam dan tak bisa memahami ini,
Mencoba bertanya kepada manusia lain, namun nihil.
Kau berteriak dan bertanya pada langit biru sore itu,
Namun ia tak mendengarmu,
Atau memang suaramu takkan pernah sampai terdengar di sana.

Kau masih menelusuri telaga waktu,
Seperti langkah kaki yang terus berjalan.
Sejenak berhenti,
Lalu kau pun berdiri dan bersiap untuk berlari,
Menghadapi hari-hari kelammu.

Posting Komentar

© #NoteAdit - Aditya Bintang Perdana. All rights reserved. ##