Lo lahir mau jadi apa?

Sekolah itu kadang terasa kayak penjara kecil, di mana hidup diatur oleh sistem yang bikin kita kayak pion catur, dipindah-pindah sesuka hati. Yang berkuasa jadi semakin besar, yang lemah semakin tertindas. Kadang, rasanya hidup emang nggak adil. Sekolah jadi tempat di mana kita diatur dan dicetak jadi "orang sistem." Kenapa? Karena ini masalah besar di negara kita. Sadar atau nggak, sistem di negara ini, termasuk sekolah, sering berantakan.

Tuhan menciptakan manusia dengan ribuan akal dan kelebihan, tapi semua itu bisa hilang seiring waktu saat kita mulai duduk di bangku sekolah. Sekolah sering mengubah mindset kita, yang seharusnya nggak "takut salah" jadi "takut akan kesalahan."

Sekolah itu sering merubah segalanya dan membunuh kreativitas yang Tuhan berikan. Kita diajarkan untuk takut akan kesalahan, takut sama guru killer yang bisa seenaknya merubah nilai kita. Kadang, rasanya guru cuma bilang, "Nggak suka sama anak itu? Nilainya 94? Makan tuh nilai!" 94 bisa jadi 64 cuma karena mereka yang berkuasa di sekolah.

Sekolah ngajarin kita kalau salah itu bahaya. Matematika dapet jelek bisa bikin nggak lulus. Salah dalam pelajaran bisa dihukum, bukan diajarin dan dikasih tahu yang benar. Pelajaran agama kalau nggak bener bisa bikin nggak naik kelas. Dapet nilai C karena guru benci bisa jadi masalah besar. Semua ini bikin kita takut dan stres.

Saat di sekolah, kita cuma diajar pelajaran yang ada di sekolah. Kita diajar untuk menaati semua peraturan yang ada. Di Indonesia, kita dituntut untuk pintar dan harus bisa semua pelajaran di atas KKM, padahal ini rasanya bullshit. Gue mau tanya, emang guru geografi semua bisa? Semua lulus KKM? Guru seni? Guru matematika? Hanya segelintir yang bisa.

Sekarang bandingin, mana yang lebih menakutkan? Matematika yang bikin pusing atau Bahasa Inggris yang lebih penting? Tapi sisi positifnya, seni dan Bahasa Inggris juga bisa saling terhubung, misalnya dalam seni musik.

Gue kadang muak dengan guru yang bilang, "Apa yang tidak diajarkan di sekolah tidak akan membuat kalian sukses" atau "Kalau kalian tidak bisa mengikuti pelajaran saya, kalian tidak bisa sukses." Gue balikkan pernyataan itu dengan keras, "No, it’s not true. You say that because you want us to like you, but just some students can like you. And some students are different."

Lihat aja hasil rapor, jika matematika di bawah KKM, sedangkan pelajaran TIK di atas rata-rata, mana yang lebih dipilih untuk di leskan oleh orang tua? Tentu saja matematika, padahal anaknya jelas nggak suka pelajaran itu. Orang tua lebih pusing dengan matematika, padahal harusnya anak dibantu untuk mencapai nilai minimal 80, bukan dipaksa dapat 100. Kalau nilai seni jelek, ada les tentang seni? Nggak ada kan?

Bayangkan kalau setiap tahun hampir 100% anak kuliah S1 lulus, lalu pertanyaannya, buat apa ijazah S1? Jadi kayak ijazah SMA aja, kalau nggak lanjut ke jenjang berikutnya yang lebih menakutkan lagi. Setelah lulus kuliah, cari kerja harus rebutan dengan pelamar lainnya. Ironisnya, banyak yang lebih suka jadi pegawai daripada menuangkan kreativitas untuk menciptakan lapangan kerja sendiri.

Guru, masyarakat, siswa, dan orang tua harus sadar. Masih banyak hobi dan minat anak-anak yang bisa dikembangkan, nggak harus selalu matematika, bahasa, fisika, dan pelajaran monoton lainnya. Kita bisa melawan arus, menciptakan harapan baru, dan berhenti berkata, "Saya harus jadi sukses seperti dia," dan mulai bilang, "Saya harus mengubah dunia."

Sekolah perlu dirubah. Jangan bikin anak stres dan lihat apa yang sekolah sumbangkan untuk bangsa? Banyak yang sukses, tapi banyak juga yang terjerumus dalam pergaulan bebas, narkoba, tawuran, atau bahkan penjahat. Semua itu adalah dampak buruk dari sistem pendidikan dan lingkungan sekitar.

Karena nggak semua orang harus jadi akademik. Kita bisa jadi diri sendiri dan sukses tanpa kemampuan akademik. Masa depan tidak ditentukan oleh sekolah.

Posting Komentar

© #NoteAdit - Aditya Bintang Perdana. All rights reserved. ##