Kita mah bisa apa? Namanya juga rakyat biasa. Mau orasi kayak apapun, hasilnya sering kali sama, nihil.
Ketika kekuasaan tak pernah tergantikan, kesengsaraan pun melanda. Orang-orang yang itu-itu aja, tebar janji belaka. Saat keadilan disuarakan, pengadilan malah ngomong lain. Koruptor bisa jalan-jalan, sementara nenek-nenek malah harus ditahan.
Katanya sih negara hukum, tapi nyatanya juga cacat hukum. Kalau komentar di sosmed, dibilang cari sensasi, kadang malah dibully. Ngelaporin masalah besar, malah diciduk polisi. Susah jadi rakyat kecil, selalu jadi korban.
Apa harus rakyat selalu diam? Diam dan diam? Menikmati permainan politik era ini sampai pada akhirnya mereka harus mati dalam diam? Makan beras plastik nggak pa-pa, toh katanya pemerintah juga nggak ada.
Dan ketika mereka tertawa, mengambinghitamkan rakyat jelata, hanya uang yang ada di sana. Tak pernah ada hati yang tersisa. Kalau di TV bicaranya pro rakyat, di rumah pro my self. Kata-kata selalu diutamakan, tindakan urusan belakang.
Makan uang dulu, baru kerja. Namanya juga penjabat. Bebas sini-sana, ketika negeri ini hancur, mereka tak mau tahu. Toh itu warisan masa depan.
Programnya bebas narkoba, tapi dari kalangan orang biasa, pelajar sampai penjabat negara, menikmatinya dengan bebas. Polisi aja ikut-ikutan. Mana bisa tuntas soal narkoba jika semua karena uang? Mari kembali menengok belakang.
Di bangku sekolah kita sudah curang, lalu bagaimana di masyarakat? "Itu sih udah hal wajar, katanya sih salah situasi." Kalau nulis kayak gini juga buat apa? Palingan mereka nggak mau ngerti. Inilah hidup, jika hanya materi yang selalu dikejar.
Presidennya mah udah bener, katanya? Masa sih, kok rasanya sukar dipercaya, apalagi bawahannya pada nggak bener. Ya gitu deh, diberi uang 1 juta, yang turun 750 ribu. Sisanya kemana? Ada kepotong pajak. Konon katanya. Padahal larinya?
Udah hal lama, cerita lama malah. Namanya juga manusia, mana tahan sama godaan. Udahlah, pasrahin aja. Toh hanya Allah yang tahu. Kita mah bisa apa? Sakitnya tuh di sini.
Udah nggak ada yang bisa diharapkan. Mau ngapain demo, bikin macet juga. Mending diem di rumah. Makan bakso juga enak. Kalau ada boraknya ya alhamdulilah. Kalau bisa tambah formalin, toh yang jual nggak takut dosa. Kan emang banyak makanan kayak gini, mau disebutin?
Jangan nanti pada marah, apalagi yang punya tanggung jawab, sok-sok nggak tahu. Kini apa yang bisa diharapkan? Bermimpi sang proklamator, masih ada? Iya, jika Pak Karno ada, mungkin udah nangis sekarang sambil bilang, "Aku tuh nggak bisa diginiin."
Inilah suara rakyat dalam sesak dada, hanya bisa berdoa, menunggu dan menunggu sampai nanti, akan tetap menunggu.