Bad Day? Stress Parah

Beberapa hari yang lalu gue serasa stress tingkat atas ya termasuk hari-hari setelahnya seperti hari ini di mana gue abis kena sial. Ceritanya sore tadi gue sama risky temen satu kost gue mau jalan-jalan ya ngilangin suntuklah daripada diem mulu di kost juga.



Nah akhirnya kita keluar muter-muter tuh di jalan-jalan Banyuwangi yang agak-agak nggak bersahabat apalagi kalo udah Polisi lewat haduh bisa beda cerita itu mah, karena entah kenapa gue mengarahkan sepeda menuju Taman Sritanjung di sana gue terdiam sebentar sementara Risky mulai menyalakan lagi Sebatang Rokok dan menghisapnya pelan.

“Fyuh ngapain lagi nih?”
“mana gue tau, kan lu yang ngajak.”
“Iya juga sih ris, gue baru tau ini nih.”
“Soal apa?”
“Tuh bangunan depan jadi milik pemda sekarang.”
“oh MOST iya nggak tau ya tiba-tiba jadi aset pemda,”
“Mall Of Sritanjung kek malah bangunan terlantar.”
“elah buat apa kita mikirin, toh nggak penting juga.”
“Hahaha sialan lu, jalan lagi yuk kemana kek.”

Setelah sok-sokan mengomentari sebuah bangunan gue sama risky jalan lagi ya seperti halnya tadi setelah muter nggak jelas gue memutuskan berhenti di TMP depan Pemda Banyuwangi, duduk sejenak di bangku taman dan melihat aktifitas kota banyuwangi di kala sore hari menjelang maghrip.

Dari Supir Taksi yang duduk-duduk di kap mobilnya sambil bercengkrama atau sesekali menghisap sebatang rokok yang ia nikmati kala itu, lalu lintas yang lumayan terbilang cukup ramai untuk sebuah kota kecil di ujung jawa sebuah destinasi wisata baru katanya.

Dan untuk sekali lagi gue menghirup nafas mencoba untuk menenangkan diri, dalam hati gue udah panik,marah,kecewa, yang akan memperkeruh gue untuk stress dan depresi dan gue nggak mau hal-hal seperti itu terjadi, yah walaupun telat gue udah depresi berat.

Risky tiba-tiba membuka percakapan gue sama dia ngobrol banyak mengenai ini itu misalnya problematika anak sekarang yang cenderung ke arah negative,

“Anak sekarang tuh budget sama gaya berat sebelah, maunya gaya kek gitu eh budgetnya nggak cukup tapi di paksain panjat sosial.”

“dan anehnya lagi adalah mereka nggak nyadar ngelakuin hal itu mereka selalu nyangkal kalo mereka udah konsumtif terhadap sebuah trend dan omongan orang lain?” gue berpendapat seperti itu karena gue merasa sekarang ini temen-temen lama gue mulai berubah perlahan-lahan.

“bagi gue sih nggak masalah ya, tapi lucu aja yang kaya kadang sederhana banget ya walaupun nggak semua.”

“gue buka instagram, nggak ada tuh temen gue yang nggak kaya pada bagus semua postinganya. Pokoknya hitz gitu deh,”

“Apa yang di liat di sosmed berbanding terbalik dengan kehidupan nyata.”

“walau nggak semua orang kek gitu di sosmed,” tambah gue melengkapi pendapat risky.

Gue memang salah satu orang yang heran dengan fenomena-fenomena generasi z yang kekinian tersebut, boleh kekinian boleh sombong tapi jangan bego juga liat-liat kondisilah. Paling nggak jangan maksain diri untuk sesuatu hal yang pada akhirnya akan jadi boomerang untuk diri sendiri.

Ya contohnya gue ngalamin kan? Buat sesuatu hal gagal dan harus bertanggung jawab untuk semua itu, dan gue nyeselnya tuh bukan karena acara tersebut tapi nyesel ketika nggak semua orang itu dukung karena gue baru sadar,

NGGAK SEMUA ORANG YANG ADA DI SEKITAR KITA YANG SUSAH SENENG BARENG DAN SAMA-SAMA ITU TEMAN, KARENA BISA AJA MEREKA CUMAN NUMPANG LEWAT AJA DALAM HIDUP KITA.

Sejak saat itu gue jadi mikir, oh gue harus lebih hati-hati cari temen gue harus bisa jaga jarak, gue harus belajar untuk tidak bergantung ke orang lain dan gue juga nggak mau deket lagi sama orang karena percuma kalo lu udah merasa deket sama orang, ketika orang-orang tersebut hilang dalam hidup lo pasti ada rasa hampa,kekosongan dalam hati lu nah itu yang gue rasain ketika gue sadar gue kehilangan orang yang gue anggep temen di sekolah menengah pertama dulu.

Gue bego? Bangetlah gue nggak bisa bedain temen atau bukan gue juga nggak bisa bedain masalalu atau masa depan ibaratnya nih ya selama kurang lebih lima tahun gue ngelakuin hal yang sia-sia ngebawa orang-orang terdekat gue ikut ke dalam suramnya idup gue itu, dan gue nggak mau ngelakuin hal-hal itu untuk kedua kalinya.

Gue minta maaf ke semua orang yang pernah terlibat ke masalah gue, problemnya ada banyak faktornya bisa dari mana saja oleh karena itu gue benci akan masalalu gue sampai saat ini hal yang gue mau lupain adalah 5tahun yang gue buang percuma itu, gue ngerasa gagal, dan jadi seorang pembual.

Fyuh setelah gue merenung dan meratapi semuanya, gue ngajak risky untuk segera pulang tapi naasnya ketika dia selesai berbicara dengan salah satu temannya yang nggak sengaja ketemu di depan pemda, gue lupa kunci di mana akhirnya selama dia masih ngobrol sementara gue mencari-cari dimana gue taruh tuh kunci, kalo nggak ada kunci kost gimana gue bisa pulang? Akhirnya gue mencoba pasrah tiba-tiba saat gue balik helm, kunci gue ada di sana.

Dan setelah drama nggak jelas itu risky ngajak balik, tapi ternyata malam itu mungkin hari sial bagi gue tiba-tiba di belakang UNTAG ban sepeda motor bocor, gue sama risky kebingungan karena gimana ceritanya ban sepeda tiba-tiba bocor gitu aja nggak lama setelah itu gue dorong sepeda ke salah satu tukang tambal band di dekat situ, awalnya gue curiga karena nggak ada kompresor di sana apa iya tambal band? Tapi berhubung gue nggak mau kemaleman akhirnya gue sama risky mutusin buat ganti ban sepeda di sana karena ban belakang katanya kena paku, padahal tadi gue sama risky nyari-nyari paku nggak ada dan untuk meyakinkan kita beliau ngasih tau kalo ada sobek di band tersebut.

Yah akhirnya apa boleh buat gue sama risky harus berbesar hati untuk itu, setelah ganti ban sepeda dan bisa jalan masalah nggak berhenti di situ tiba-tiba ban sepeda depan ikut-ikutan nah masalahnya adalah tadi band sepeda depan juga di cek sama tukang tambal band tadi padahal yang bocor belakang.

Udah deh gue sama risky bener-bener curiga saat itu tapi yaudahlah karena udah terlalu jauh gue mutusin buat dorong sepeda sampai tukang tambal band berikutnya,

“pak ini kempes kenapa ya, coba tolong isi anginya.”

Nggak lama berselang setelah di isi angin tiba-tiba ban sepeda kempes lagi, dalem hati gue udah mau ngomong kotor tuh dan gue rasa risky juga sama akhrinya dengan besar hati lagi gue minta untuk di cek oleh tukang tambal ban.

Tapi berbeda dengan yang sebelumnya tukang tambal ban yang kali ini punya kompresor dan juga alat-alat lengkap, nggak sampai satu jam ban udah beres dan bisa di tambal, sesampainya kost gue menghela nafas dan tertawa sama risky karena bagi kami berdua tadi adalah sebuah masalah kecil yang harus di tertawakan,

Posting Komentar

© #NoteAdit - Aditya Bintang Perdana. All rights reserved. ##