Pernah nggak lu ngerasa tiba-tiba ada masalah yang datang tanpa lu tau apa yang terjadi, dan semua itu seakan terjadi begitu aja hingga lu merasa tersudutkan dan kesalahpahaman jadi sesuatu yang dipercayai?
Siang ini setelah jam dua belas, ada handphone hilang di kelas gue. Semua anak kaget, karena ini bukan pertama kalinya. Sebelumnya juga ada beberapa kejadian serupa tanpa kita tahu siapa pelakunya. Pertama, di kelas satu ada handphone Lenovo yang hilang. Kedua, di kelas dua ada dua kejadian: pertama handphone ASUS hilang, kedua handphone iPhone milik orang yang sama setelah kehilangan Lenovo.
Guru tetap tidak memberikan solusi pasti, bahkan laporan ke polisi juga tidak dilakukan. Akhirnya, yang bisa dilakukan hanya mengikhlaskan. Dan di penghujung Sekolah Menengah, kejadian ini terulang lagi, yang terakhir menjadi yang keenam kalinya. Kali ini gue merasa tersudutkan karena gue ada semacam konflik kecil dan gak penting dengan yang kehilangan.
Kita bahas kejadian pertama dulu. Temen gue, laki-laki, kehilangan handphone Smartfrennya di jam 12-an juga, namun di lab komputer. Dengan alasan yang sama, yaitu mengikhlaskan, kejadian ini terjadi lagi untuk kedua kalinya di kelas tiga. Kali ini handphone milik cewek hilang setelah jam pulang sekolah, dan ia baru sadar setelah selesai piket.
Terakhir, kejadian hari ini. Gue sempet mikir, kok bisa hilang lagi dan kita gak tau siapa pelakunya. Parahnya, di lab komputer CCTV mati, jadi gak bisa diharapkan. Faktanya, waktu marak helm hilang di parkiran juga CCTV sering mati. Percaya atau tidak? Memang seperti itulah.
Siang tadi, handphone ASUS milik anak cewek hilang. Posisi gue abis becanda bareng ketua kelas dan tidur di lantai karena ngerasa gak enak badan setelah kehujanan berkali-kali dan deadline artikel ghost writer yang menunggu, plus gue lagi nyoba bikin website review buku atau novel Indonesia sebagai tugas akhir sekolah.
Sesaat setelah hilang, gue langsung manggil ketua kelas untuk menyelesaikan masalah. Gue juga lapor ke salah satu guru dan mencoba mengecek CCTV lab yang naasnya belum berfungsi kembali setelah lomba. Semua anak diperiksa satu-satu, termasuk gue. Gue usul ke salah satu guru untuk tidak pulang dulu sampai masalah clear.
Tapi masalah malah tambah rumit. Tas semua diperiksa, handphone diletakkan di depan, dan anak-anak digeledah satu-satu, termasuk gue. Jok sepeda juga diperiksa. Tiba-tiba, ada kesimpulan mengejutkan tentang kehilangan ini. Cewek yang kehilangan tadi menyebutkan beberapa kriteria:
- Wajahnya tanpa dosa atau Watados gitu katanya.
Faktanya, gue termasuk. Karena gue gak neko-neko, gak banyak tingkah, cuma jadi bahan bullyan di kelas. Gue di pandang sebelah mata dan selalu dikucilkan. Gue terbiasa sendiri karena gak ada orang yang sepemikiran sama gue. Gue kerja keras supaya suatu saat bisa membahagiakan orang-orang terdekat gue.
- Pernah ke rumahnya sekali.
Damn, entah kenapa clue kedua juga sama. Gue pernah ke rumahnya bareng anak-anak cowok waktu itu untuk sekadar memenuhi undangan, meskipun gue pengen cepet pulang. Ini udah kelas dua, kalau gak salah.
- Juga ke rumah ketua kelas kemarin.
Kemarin, ketua kelas ngundang makan-makan di rumahnya karena ulang tahunnya. Gue ada di sana karena ketua kelas adalah salah satu orang yang gue percaya. Hanya sedikit anak cowok yang ke rumah ketua kelas, yaitu gue dan tujuh orang lainnya. Ini semakin memperkecil suspect yang ada di gue.
- Ada konflik sama cewek tadi gegara becandaan.
Gue akui gue gak suka di-sensiin atau dibuat marah sama orang. Itu dia mulai konflik sama gue di semester dua kelas sebelas atau kelas dua. Jadi, gue masuk kriteria walaupun beberapa anak juga ada yang begitu.
Masih banyak clue lain yang mengarah ke gue, seperti nada bicara yang terlalu nyindir dan tatapan sinis dari anak-anak, seakan-akan gue adalah pencurinya. Faktanya, gue gak pernah diajarin orang tua buat nyuri atau ngambil yang bukan hak gue.
Dari kecil, gue berusaha mati-matian untuk berdiri sendiri. Di kelas empat SD, gue rela gak jajan supaya bisa nyisihin uang untuk main ke warnet dan hobi ngegame. Di SD kelas enam, gue baru tau kalau ngeblog bisa mendatangkan uang dari Adsense. Gue sering share cheat game dan cara hack game di blogspot.
Di SMP, meski cupu dan bego di bidang akademis, gue tetap bisa masuk 10 besar. Gue jualan DVD game, mod GTA SA, pulsa, paket data, dan kaos untuk beli hape. Walaupun pernah ditipu dan rugi ratusan ribu, gue tetap berusaha.
Di SMA, gue nulis buku di penerbit indie dan dapet royalti lumayan. Tapi sekarang, gue terpuruk karena masalah lain. Di Mei kemarin, acara event organizer gue minus dana. Gue harus nebus lebih dari empat juta dengan uang sendiri tanpa orang tau, padahal itu kesalahan orang lain.
Semua usaha gue, dari ngeblog, jualan, nulis buku, sampai freelance writer, rasanya jadi nggak ada artinya. Gue tiba-tiba dianggap maling? GAK GUE BANGET!!!
Sebego-begonya gue, sebodoh-bodohnya gue yang gampang dimanfaatin dan susah di bidang ekonomi. Gue capek dimanfaatin, capek ngeliat drama di kelas, dan capek jadi bahan mainan. Gue cuma pengen ada beberapa teman yang percaya dan support gue.
Gue nulis di Kompasiana bukan mau cari sensasi atau pembelaan, tapi nyuarain keresahan gue. Gue gak mau ada orang yang senang di atas penderitaan orang lain. Siapapun pencurinya, thanks ya udah nyiptain drama lagi. Gue gak takut kalau harus berhadapan sama hukum. Kalau berakhir kayak Pak Ahok, gue ikhlas, gue tersudutkan karena persepsi, salah paham, dan penggiringan isu.
