Alfa pertama di semester kedua

Pagi ini, gue bener-bener enggak ada tenaga buat beranjak dari kasur yang seakan jadi magnet yang membelenggu. Pusing, berat, semua jadi satu, akhirnya gue ketiduran lagi dan skip kelas Agama, padahal hari ini ada pengumpulan tugas. Ya, salah gue sih, malamnya kerja bareng Mas Bram, harusnya langsung tidur, bukan malah lanjut begadang. Haeh, namanya bandel, ya udah gitulah...

Siangnya, gue harus masuk kelas Televisi dan Film. Dua jam lebih dosen ngomong, sementara anak-anak cuma mainan hape, tengok kanan-kiri, tertawa sebentar, lalu menghela nafas dan melanjutkan aktivitas masing-masing. Dosen kali ini emang boring banget, tiba-tiba ngomongin politik, radio, dan lainnya. Bukan karena enggak menarik, tapi penyampaiannya yang bikin terasa membosankan.

Setelahnya, gue ngajak Tandzil buat ngopi di kantin. Ngga berselang lama, anak-anak ikutan. Ada yang makan, ada yang senda gurau, dan lainnya. Kita ngomongin banyak hal, terutama Ilham yang katanya lagi ngedate sama gebetannya. Akhirnya perjuangan Ilham dari awal masuk sampai sekarang, yang selalu disindir sama anak-anak, bisa ada pembuktian juga. Eh, maksud pembuktian disini bukan berarti ceweknya dijadikan bahan pembuktian ke teman-teman gue. Tapi lebih ke bahwa Ilham akhirnya bisa ngajak seseorang pergi bareng. Mampus kau Fahri, enggak bisa bacod lagi wkwkw.

Lanjut ke kelas Estetika, gue udah penat banget, apalagi ternyata gue lupa bawa buku. Akhirnya, yang gue tangkep dari dosen cuman teorinya saja tanpa mencatat, seperti definisi kaya menurut materialisme dan idealisme, atau cerita tentang Goa Plato yang pernah gue bahas dulu. Eh, iya, threadnya dihapus ya wkwkw. Maaf, kapan-kapan gue tulis lagi deh.

Malamnya, masih ada kelas Sinematografi. Disini, gue dapetin kata-kata keren dari dosen setelah beliau menjelaskan panjang lebar mengenai bahasa alam, bahasa keseharian, lalu bahasa dalam video dan visual. Gue bertanya tentang salah satu kata di film Republik Twitter.

“Bahasa itu kelas sosial, Ndre. Topeng. Kalau aku pake bahasa strataku jadi naik.”

Akhirnya, gue tanya ke dosen tentang apa yang dikatakan Sukmo di situ, bahwa bahasa adalah topeng dan ada strata sosial di dalamnya. Apakah hal ini benar di kehidupan sehari-hari? Dosen gue menjawab bahwa hal itu bisa saja terjadi, terutama di bahasa daerah seperti bahasa Jawa, di mana ada tingkatan sosial dan strata yang berlaku. Walaupun begitu, beliau juga menjelaskan banyak hal sampai keluar dari konteks pertanyaan gue, dan berhenti di satu pertanyaan:

"Tadi udah terjawab belum ya pertanyaannya? Malah ngelantur ke banyak hal."

Beliau menjawab pertanyaan-pertanyaan gue dengan simpel di ujung akhir mata kuliah. Beliau berkata, meski enggak persis seperti ini, tapi intinya begini:

"Orang mainstream itu sudah mati sejak dini. Karena ia mengikuti arus sana-sini tanpa henti, lebih peduli tren dan popularisme, mengikutinya terus hingga ke mana pun. Ia tak percaya diri, tak berekstensinya lagi, dan sesungguhnya ia sudah hilang saat mulai mengikuti kepopuleran seseorang tersebut. Menjadi ekor dari orang lain terus menerus tanpa adanya jeda."

Emang kenyataan banyak yang seperti itu. Banyak teman-teman gue yang berubah-ubah sesuai tren. Dulu suka reggae, lalu suka motor, futsal, burung, dan lain sebagainya—hanya mengikuti tren yang dibuat. Sedangkan gue merasa berbeda, merasa gue enggak atau bukan bagian dari mereka.


Posting Komentar

© #NoteAdit - Aditya Bintang Perdana. All rights reserved. ##