Hari ini bener-bener kacau. Gue tidur sekitar jam dua pagi dan bangun jam lima pagi buat berangkat kuliah ke kelas PAI yang gue skip minggu lalu. Dosen gue kali ini luar biasa, langsung masuk kelas dengan cerita tentang Christchurch dan pembunuhan yang terjadi, lalu membahas xenophobia dan islamophobia. Dosen ini keren banget—gue sebagai orang yang bisa dibilang udah nggak sereligius seperti dulu, mulai kehilangan arah sejak 2015 ketika Indonesia mulai muncul orang-orang yang merusak kebhinekaan. Gue jadi apatis dan mempertanyakan apakah bangsa gue udah terlalu kearab-araban, padahal bangsa Arab sendiri tidak berperilaku seperti itu.
Gue bingung dan kacau. Bahkan gue nulis apapun harus pakai nama pena karena takut bahas agama atau politik bisa berakibat buruk. Di sini, banyak yang mengkafirkan teman sendiri hanya karena perbedaan pandangan, dan dosen gue membahas ini dengan opini yang membuka sudut pandang baru. Gue bersyukur masuk kelas PAI dengan dosen yang sangat baik. Gue bukan orang yang baca Al-Quran dengan lancar seperti dulu atau yang sholatnya full terus—gue bukan orang itu, dan gue akui kekurangan gue. Gue bahkan bisa dibilang bangsat sekalipun.
Setelah itu, gue sama Tandzil ngerental PS bareng Zyan, maenin FIFA 18 plus PES 19. Dua jam terakhir itu kita kalah abis-abisan, lucunya kita seharusnya ada kelas jam 12.30, tapi karena dosen lagi rapat, kelas akhirnya skip dan cuma presensi. Kelas selanjutnya jam 14.20 pun sama, cuma masuk untuk presensi lagi. Gila! Setelah itu, gue pulang dan tidur karena cuaca nggak menentu, hujan dari siang bahkan pas kita maen PS.
Gue sadar kalo gue ketiduran dan skip kelas lagi, dan dosen pengampunya adalah DPA gue sendiri. Ya ampun, gue bingung dan kalap. Akhirnya, kayak sebelumnya, SKIP KELAS lagi dan nambah koleksi alpha gue semester ini.
