Semester Kedua yang Hectic

Jadi di semester kedua ini, gue ngejalanin kuliah yang lumayan hectic. Ya, bukan karena gue pinter atau gimana, tapi karena gue telat KRS dan dapet kelas sisa. Jadi awalnya, ini susunan kuliah gue yang udah fix dan dapet tandatangan dari DPA:

  • Senin: Sinematografi
  • Selasa: Ilustrasi, Penulisan Naskah Non-Fiksi, Desain Program Non-Fiksi
  • Rabu: Tata Rias dan Busana, Pendidikan Agama
  • Kamis: Estetika, Pengantar Televisi dan Film, Pendidikan Pancasila

Gue bergegas menuju kampus untuk minta tandatangan Dosen Pembimbing Akademik (DPA) yang gue temui di lorong, lalu ditandatangani beliau di tembok kampus. Gue minta stempel dan akhirnya pulang ke rumah dengan selamat.

Beberapa hari kemudian, jadwal tiba-tiba berubah. Gue harus balik lagi ke kampus untuk ngatur ulang, dan akhirnya jadwal kuliah gue jadi cuma tiga hari. Ah, terima kasih Akademik hehe.

Jadwal Kuliah Baru:

  • Selasa: Ilustrasi, Penulisan Naskah Non-Fiksi, Desain Program Non-Fiksi
  • Rabu: Tata Rias dan Busana, Pendidikan Pancasila
  • Kamis: Pendidikan Agama, Pengantar Televisi dan Film, Estetika, Sinematografi

Dan... mulailah minggu pertama perkuliahan. Gue di hari Senin udah enggak kuliah. Untuk pertama kalinya, gue cinta banget sama hari Senin. Enggak ada upacara, enggak ada apapun, cuma gue, game, dan ya, gue sendiri wkwkw...

Selasa: Gue masuk kelas Ilustrasi dengan dosen yang sama dari Nirmana semester lalu. Cuma perkenalan dan dapet tugas baru. Lanjut ke Penulisan Naskah Non-Fiksi yang agak lama karena dosennya cerita panjang lebar dan menarik banget. Paling enggak, ilmu tanpa enggak langsung. Di malam hari, gue ketemu dengan dosen Desain Program Non-Fiksi, yang kebetulan juga dosen Fotografi gue. Setelah maghrib, kelasnya cuma gue sama Aris yang datang. Nunggu agak lama baru anak-anak bermunculan. Kelas jadi rame dan dosen sempat ngejoke tentang acara TV alay di negara kita tercinta.

Rabu: Gue ketemu mata kuliah Tata Rias dan Busana, yang ternyata butuh beli alat kosmetik mahal. Untungnya dosennya friendly. Setelah itu, gue masuk ke Pendidikan Pancasila yang agak bikin gue kesel. Kelas kita harusnya udah mulai, tapi masih diinvasi mata kuliah lain. Setelah 20 menit, akhirnya kita dapet kelas, tapi dosennya telat 15 menit. Kesan awalnya serius, tapi pas udah mulai ngomong jadi kocak. Jam berlalu, dan kelas pun selesai.

Kamis: Gue dipaksa bangun pagi untuk Pendidikan Agama. Dosennya cerita-cerita, ngasih tugas cari artikel, lalu selesai. Suasana kelasnya krik-krik banget karena campur dengan fakultas lain, cuma ada gue, Daffa, Axel, Zaki, dan Novandi yang dikenal. Setelah itu, gue masuk ke Pengantar Televisi dan Film yang lumayan enak meskipun panas. Di sore hari, gue ada Estetika dengan DPA sendiri. Beliau cerita tentang pengalaman kuliahnya di ISI, waktu itu cuma punya uang sepuluh ribu rupiah dan hape, tapi tetap bisa jalan-jalan sewaktu liburan kuliah.

Beliau nebeng angkutan truk ke berbagai kota, dan di tiap kota, beliau ngontak teman-temannya. Bisa tinggal seminggu sampai dua minggu dan makan gratis. Pulangnya, uangnya malah nambah karena dikasih ongkos. Cerita ini bikin gue sadar bahwa pertemanan bisa lebih dari sekadar teman, tapi seperti saudara jauh. Gue sendiri ngerasain hal yang sama dengan beberapa teman, seperti nebeng di kos Arya, Pampam, dan Coco di Jogja, atau numpang di kontrakan Mas Galang di Jakarta.

Udah gitu dulu aja cerita gue. Thank you udah mau baca. Kita lanjut lagi besok dengan cerita gue bertahan di Jogja dan Jakarta dengan modal sejuta dalam satu bulan. Enggak gue enggak kek dosen gue yang pinter dengan nebeng dan punya koneksi banyak. Gue beda, hehe. Gue naik kereta dengan modal uang sejuta dan hidup di rumah orang. See you on the next thread!

Posting Komentar

© #NoteAdit - Aditya Bintang Perdana. All rights reserved. ##