Begitu berat terasa.

Gue kadang mikir, kenapa sih harus jadi baik? Kenapa sih harus selalu mencoba menyenangkan semua orang?

Gue kadang mikir, kenapa sih harus jadi baik? Kenapa harus selalu mencoba menyenangkan semua orang? Padahal gue nggak harus ngelakuin hal kayak gitu untuk diterima semua orang, kan? Tapi dari dulu gue selalu begitu, selalu jadi orang yang mengesalkan. Namun, ketika teman atau kenalan minta tolong, gue nggak mikir dua kali dan selalu bilang, "Gue bantu sebisa gue," yang berarti gue masuk ke dalam masalah baru.

Ternyata, gue nggak belajar dari kesalahan. Gue tetep aja kayak gitu. Hah, gue lagi nggak mau ngobrolin tentang puasa sih, hahaha. Lo pada pasti bosen dengerin itu. Puasa gue lancar, buka masih sama keluarga, sahur juga gitu-gitu aja. Main game sama Daffa, Axel, Iyant, dengan tololnya Gartic.io yang entah gimana tayang langsung sama Akbar dan ada orang Turki ikutan, kan geblek ya.

Anyway, balik lagi ke permasalahan gue barusan. Jadi baik ternyata nggak selamanya enak. Gue pengen sekali-kali nolak ajakan orang, nggak mau diajak ini-itu, tapi sifat "gaenakan" gue mengalahkan segala emosi atau perasaan yang gue pengen. Kan goblok ya. Akhirnya selalu bikin masalah baru.

Termasuk gue yang entah bagaimana punya sisi buruk, nggak bisa kalau disuruh, nggak bisa kalau dipaksa. Jadinya ya gue nggak bisa aja. Terlebih dengan semester ini. Ekspektasi gue terlalu tinggi, ternyata berakhir dihempaskan dan gue tersungkur. Ada beberapa mata kuliah yang gue hindari, yaitu Tata Art, Semio, dan Metopen. Nggak ada masalah sebenarnya dengan dosen pengampu atau apapun itu, gue yang salah, gue yang nggak cocok dengan tugasnya, gue yang nggak suka dikasih tugas, dan gue yang bodoh.

Yep, gue sampai mikir, apa iya gue masih cocok kuliah di sini? Tapi ini udah setengah jalan, nggak ada jalan mundur. :) Gue akhirnya sekarang mencoba bertahan. Di tengah pandemi ini, kondisi mental gue sedang tidak baik-baik aja. Yes, terlebih gue udah nyoba survive sampai saat ini sejak keinginan bodoh gue waktu itu, 2017 jadi masa terkelam gue memang. Sempat berpikir macam-macam, toh akhirnya gue bertahan hingga detik ini.

Kebanyakan orang akan berkata, "Yah, depresi apaan, ah lebay, ah gitu doang, kek masalah hidup lo paling berat, lo kali kurang iman, lo nggak dekat sama Tuhan, lo ini lo itu." Hahaha, gue biarin deh. Someday, kalau depresi menghampiri mereka, mereka akan tahu bagaimana rasanya. Semoga mereka tahu bagaimana rasa nggak enaknya. Gue sekarang lagi ngelawan itu.

Nggak ada yang bisa ngertiin gue sih, hehe, even my parents. Blog ini ya buat catatan gue aja. Lo nggak usah pada ngasih komentar tentang gue atau hal lainnya, gue biasa aja kok. Ya emang gini orang yang terlanjur jadi bego, nggak usah kaget lah ya, gue kan emang aneh. Ahaha. Yaudah, gitu aja.

Posting Komentar

© #NoteAdit - Aditya Bintang Perdana. All rights reserved. ##