Hah, gue kemarin sore harus nganter sesuatu ke rumah saudara. Selama perjalanan pulang dan pergi, gue ambil rute yang berbeda dan syok banget karena masih rame banget. Anjerlah, terutama yang sepedaan dan ngabuburit cari takjil. Orang yang jualan juga rame banget, hampir tiap jalan penuh.
Gue bener-bener kebingungan sama semuanya. Sebenarnya, semua orang ini mau pandemi ini berakhir atau nggak, tapi di sisi lain, mereka seperti orang tua gue—kalau nggak kerja harian, nggak makan. Jadi, serba salah ketika semuanya seperti sekarang. Bahkan, gue kemarin sempat mampir ke tukang jualan es langganan gue sejak SD. Dia cerita kalau penghasilannya berkurang dan bingung harus gimana, hanya karena pandemi ini yang nggak ada akhirnya.
Semalem gue juga gitu, abis buka, dan lihat kerusuhan di timeline karena masih ada yang ngeyel buat sholat tarawih. Gue langsung terdiam. Mau komentar atau ngomong kayak gimana pun, kalau lawan gue bersembunyi di balik agama, argumen gue jadi nggak valid dan terkesan merendahkan mereka. Padahal nggak gitu, mereka boleh kok beribadah, tapi ya di rumah aja. Nggak ada larangan untuk beribadah dari pemerintah, cuma nggak boleh ke masjid aja. Ini berlaku juga di agama lain. Malah ada yang ngeyel, kok masjid ditutup, tapi mall, pertokoan, pasar boleh buka! Lah ini logika orang tolol, gimana nggak buka? Ekonomi jalannya gimana? Blok!! Kesel gue, lau mau makan apa kalau semuanya tutup, beli darimana? Heeee.
Entahlah, gue juga bingung. Ditambah lagi waktu sahur tadi pagi, gue mikir, ini kalau gini terus gimana ya? Apalagi masih ada yang ngeyel tayang live acara sahur walaupun tujuannya baik menghibur. Pesbukers yang dulunya gue benci, lumayan gue respek karena mereka pakai faceshield untuk mengantisipasi penyebaran. Gokil.
Di sisi lain, gue tetep bingung. Semua ekonomi hancur sekarang ini salah siapa? Gatau kan? Sama. Tapi gue nggak nyalahin pemerintah untuk hal seperti ini, karena pemerintah pun nggak tahu.