Hari ini ketemu si bangsat lagi, lo taulah ya Yahya, ya temen sebangku gue di kelas tujuh dulu, gue sama dia tuh ibarat partner in crime dulu, gue bego dalam matematika, fisika dan sebagainya gue minta tolong dia, dia gak bisa pelajaran tik, ips, dan bahasa misalnya gue tolongin dia. Simbiosis mutualisme lah.
Gue sama dia temenan udah delapan tahun terhitung, tapi semenjak lulus SMP, kita ketemu bisa dihitung karena dia SMK di Malang, gue di Banyuwangi Kota. Setahun sekali duakali lah kita ketemu buat ngobrol dan ngomongin perihal hidup, sekarang ini dia di Bandung kuliahnya, gue di Jember. Ya beda lagi, tapi tetep ketemu seperti biasa tiap setahun sekali.
Tahun lalu waktu lebaran kita ngomongin banyak hal, termasuk gue yang gak berubah dan masih gini-gini aja terlalu baik sama orang.
Temen lama dateng, nampar gue dengan kenyataan "Dit udah jangan mikirin orang mulu, ini yang nantinya buat lo kayak marmut yg merasa sudah berbuat banyak, bergerak/berlari jauh tapi kenyataanya lo stuck di sini-sini aja dit" dan gue pun sadar selama ini gue terlalu care
— shutdown -r (@noteadit) June 7, 2019
Hari ini, dia main kerumah buat minta tolong gue install software ke laptop dia, sambil ngobrol tentunya, ngobrolin banyak hal dan nyinggung soal Covid-19. Gue orang yang percaya covid ini ada dan berbahaya kalau orang punya komplikasi dan lain sebagainya, dia orang yang gapercaya bahwa covid seberbahaya itu dan orang yang ga suka si JRX dipenjara karena kepleset karena IDI. Gue sebaliknya gue rasa JRX memang gasalah ngomongin konspirasi tapi dia salah ketika kepleset ngomongin IDI.
Tapi kita biasa aja, nggak yang tiba-tiba ga temenan, karena beda pendapat. Sedangkan gue punya temen baru-baru aja nih kalau udah beda pendapat masalah ginian, ya Tuhan langsung berasa gue nyerang dia, padahal ya hanya beda pendapat aja.
Gue sama Yahya lanjut ngobrolin banyak hal termasuk carut marut politik dan pandangan gue sama dia tentang circle of life yang terjadi diatas, dan menyadari kalau kita terlalu berpikiran kedepan tentang banyak hal sedangkan temen-temen kita nih yang disekitar kita gapernah bisa diajak mikir kesana.
Kebetulan dia beruntung sekolah di Malang yang orangnya beda-beda dan bebas, dan kebetulan lagi dia lanjut ke Bandung dimana semua orang bertemu dan saling mempunyai pemikiran berbeda, bahasa dan aksen berbeda tapi ga masalah terhadap apapun. Sedangkan gue? Hidup di Jember gak ada bedanya sama Banyuwangi ya kurang lebih sama, orang-orangnya susah untuk diajak keluar dari zona nyaman diajak untuk memulai hal yang baru. Dan gue iri terhadap itu, diapun demikian dia iri terhadap gue yang udah nemuin passion kayak nulis gini, tapi kita saling kritik satu sama lain, untuk self improvement dan gak ada yang baper.
Kadang gue juga heran, anak yang gue kenal delapan tahun yang lalu ini sekarang udah beda banget udah gila lah perbedaannya walaupun kisah cintanya gitu-gitu aja. Gue yang gini-gini aja karena circle gue gaberubah derastis dia yang punya ragam circle baru punya puluhan cerita baru yang terjadi dalam hidupnya bahkan seru-seru.
Itu salah satu yang gue impikan sebenernya, menjadi diri sendiri tapi juga ditengah circle yang nerima gue juga, bukan yang menganggap gue terlalu beda.
Udah sih gitu aja, ahaha lagian nih ya, gue sama Yahya juga punya pemikiran yang ga selalu sama, punya pendapat yang berbeda tapi temenan tetap jalan aja. Karena bagi gue gak ada yang salah dari temenan dan beda pendapat. Harusnya lo juga bisa. See you next post.