Merdeka kali ini beda, beda karena kita gak lagi ngerayain dengan hingar bingar yang penuh gembira sebulan penuh, nggak ada lagi gerak jalan tuh yang bisa panjang banget sampe gue bingung juga, kenapa dulu dari SD kelas empat nih sampe SMK kelas satu, gue mau-maunya ikut gerak jalan, beli seragam, dan lain sebagainya padahal ya capeknya minta ampun.
Agustusan yang biasanya rame, sekarang sepi karena pandemi, karnaval yang biasanya dinanti nggak ada lagi, dulu bisa seseru itu kalau liat karnaval, ketemu temen lama, ketemu guru waktu sekolah dulu, dan tentunya tertawa terbahak-bahak melihat muka kesel yang ikutan, ada yang udah capek jalan, ada yang kucel karena udah sore dari siang kena terik matahari, ada yang pingsan nggak kuat, yang bingung nyari minum ke panitia, atau yang make upnya wadidaw.
Agustusan selalu seru untuk dirayakan, di ingat, gue selalu seneng ketika Agustusan tiba, ikut lomba ini itu yang seru banget, dari makan kerupuk, nyari koin, masukin paku dalam botol atau tarik tambang dan balap karung, sekarang? Nggak ada, pandemi merubah semuanya.
17 Agustus tak lagi terasa sama, ketika tak lagi ada yang pingsan ketika upacara baru dimulai, nggak ada lagi malem-malem dini hari ke TMP untuk berdoa bersama, momen-momen seru yang cuman ada ketika keadaan tak seperti saat ini.
Merdeka bukan tentang terbebas dari sesuatu atau mengenai tanggung jawab, rasanya lebih dari itu. Tapi nyatanya Merdeka selalu disalah artikan, selalu seolah menjadi hal yang orang ingin gapai merdeka dari ini dan itu, dari belenggu sesuatu.
Sadar atau nggak, kita tuh nggak semerdeka itu dalam apapun, misalnya berpendapat pun kita ga saemerdeka itu, ada yang mengancam kita ada yang membungkam kemerdekaan berpendapat, merdeka juga nggak bisa melupakan tentang banyak hal, contohnya merdeka menjadi diri sendiri, sulit rasanya hidup di negara ini untuk menjadi diri sendiri, karena kebanyakan selalu ingin menjadi orang lain dan menjadi orang yang bukan dirinya, mencoba seolah menjalani hidup sebagai orang lain, agar terus berada di jalur yang sedang happening.
Merdeka, bagi gue adalah ketika gue bisa melakukan apa yang gue ingin lakukan tanpa harus memikirkan orang lain, karena selama ini gue selalu memikirkan apa yang terjadi ya kalau gue kayak gini, apa yang terjadi ya kalau gue ngomong ini, apa gue boleh ngelakuin ini? Apa nggak apa-apa gue kayak gini.
Karena sejatinya nggak semuanya akan semerdeka itu, ada aturan yang membelenggu ada hal yang tak bisa terlewati batasnya, merdeka hanya kosa kata, dari apa yang menjadi penanda terbebas dari sesuatu, rasanya merdeka belum menghampiri, atau perasaan gue aja.
Anyway, Dirgahayu Indonesia ke 75, semoga semua akan jadi lebih baik kedepannya.