Realitas

Maaf gue nulis berantakan gini, yang jelas gue pengen cerita, karena gue gatau lagi mau cerita kesiapa. Otak gue udah penuh. Untuk disimpan sendiri.

 Awalnya gue percaya tiap permasalahan dalam hidup ada awalnya, ada keterkaitan dan keterikatan yang menuntun kita pada suatu masalah yang membelit, entah apapun itu. Ekonomi, Kesehatan atau bahkan hal lain. Gue pun demikian, semua yang terjadi dalam hidup gue rasanya buah dari apa yang gue tanam atau lakukan, segala pembiaran gue di masa lalu, segala ke acuhan gue, kesalahan gue dan semua nya yang telah berlalu. Gue mau nggak mau percaya akan itu, bagaimana gak percaya ketika realitas menghantam semuanya.

Pahitnya realita yang gue hadapi sekarang, segala beban yang ada dipundak gue sekarang, semua itu seakan meminta untuk diselesaikan, gue bingung yang mana dulu, gue bingung harus nolong siapa dulu? Tapi kali ini gue untuk kesekian kali sepertinya akan mengorbankan diri gue sendiri, untuk entah apapun itu nanti.

Dua bulan kebelakang gue nggak tau, kalau apa yang terjadi dari pembiaran dan kecuekan gue terhadap masalah kecil, harus menjadi sebesar ini. Awalnya berniat untuk mengalah, nyatanya berakhir kalah. Sudah pernah menyesali keputusan yang sama pada awal tahun 2020 lalu, ketika kehilangan seseorang atau sosok yang dulunya begitu menyemangati gue juga, jadi tempat cerita. Tapi selayaknya hidup, semua gak bisa diduga dan gak terduga, bahkan orang yang sekarang sedang tersenyum dan tertawa bahagia bisa saja lalu sakit dan berderai duka. Berakhir yang harus menguatkan dan menghiklaskan.

Gue belum siap untuk kedua kalinya, walaupun kasusnya sudah terlambat, walaupun sebenarnya gue sudah telat, gue udah salah, gue udah kalah. Tapi gue mau berusaha, gue mau nyoba menenangkan diri terlebih dahulu, menyiapkan mental untuk semua yang akan terjadi kedepan. Gue tau ini sulit, gak bakalan mudah apalagi musuh gue adalah waktu, keluarga, dan persepsi lalu edukasi. Semua meminta untuk cepat diselesaikan, di iringi permasalahan kehidupan gue sendiri dari masalalu yang belum selesai, dari perkuliahan yang meminta diselamatkan dan organisasi yang baru gue rintis dan bangun.

Gue jatuh, tapi gue mau bangkit dan bersiap berperang dengan diri gue sendiri, kalau boleh jujur? Gue sedih dan pengen rasanya nangis, teriak dan ngungkapin isi hati gue. Cengeng? Kalau gue cengeng terserah sih, gue gak peduli nyatanya gue masih ada disini. Walaupun dengan ragam kesalahan baru terutama kasus ini, ketika realitas untuk sekian kali menghantam gue.

Kalaupun ada yang baca ini, pasti bingung gue lagi ngomongin apa sih? Hahaha ada deh, gue lagi diterpa badai ujian, minta doanya aja. Yang terbaik untuk apapun yang sedang menimpa gue, gabisa cerita sekarang, gabisa cerita banyak tentang waktu yang memburu gue.

Yang pasti, kalau lo mau doain, doain. Gue kuat, walaupun gue tau gue bukan orang religius, walaupun gue tau gue blangsak dan kehilangan faith, tapi untuk ini gue gamau. Gue rasa Tuhan maha baik, dengan segala kebesaranNya, gue berharap ada secercah harapan untuk hal yang gue hadapi.

Maaf gue nulis berantakan gini, yang jelas gue pengen cerita, karena gue gatau lagi mau cerita kesiapa. Otak gue udah penuh. Untuk disimpan sendiri.

Posting Komentar

© #NoteAdit - Aditya Bintang Perdana. All rights reserved. ##