Sedang menatap kaca, melihat sosok bodoh di depan gue sekarang. Usianya gak lagi remaja, usianya gak lagi haha-hihi walaupun rasanya selama hidup si bodoh ini tak pernah ada rasanya haha-hihi, tak ada rasa senang yang terjadi semua mulai runtuh sejak beberapa tahun lalu, tepatnya ketika ia berusia 14 tahun. Masalah pertama kala itu, ia coba rangkai demi satu dan selesaikan walau rasanya berat. Ia tak mampu menyelesaikan, lantas si bodoh yang ada di depan gue ini berlari, ia berlari dan berpacu dengan waktu, masih terus berlari bahkan hingga kini.
Hingga gue menatapnya, hingga gue ingin menamparnya dengan kenyataan dan segala realita pahit yang terjadi. Sudah hampir lebih lima tahun hidupnya masih berantakan, jatuh bangun berkali-kali diterpa segala yang terjadi dalam hidupnya, patah hati mungkin adalah masalah terkecil dalam hidupnya, masalah keluarga salah satu pemicu ia seringkali terdiam dan menyisih dari kerumunan, mencoba tersenyum walau gue tau, si bodoh ini dalam malam hari seringkali terdiam dan terdiam lalu sedih entah karena apa.
Sempat mengundang tanya, apa masih ada bahagia tersisa? Harusnya ada karena gue sempat bilang bahagia harusnya diperjuangkan sendiri, dibuat sendiri bukan menunggu dan bergantung pada sesuatu untuk menakar rasa bahagia.
Kali ini masalah si anak bodoh ini berbeda, gue sempat terdiam dan kasihan ternyata diumurnya yang beranjak dewasa masalah tak hentinya datang dari segala ketidak tahuan, keacuhan dan keabaian yang ia buat pada sekitarnya, pada hal-hal terdekat yang ia harusnya pedulikan.
Ia terlalu mengejar sesuatu yang kecil namun berharap besar, ia tak pernah memperjuangkan yang terlihat dan terjaga, ia lupa. Dan kini si bodoh di depan kaca ini mulai menyadari bahwa hal yang terpenting dalam hidupnya dikejar oleh waktu, hal tersebut bahkan bisa saja hilang seketika bila yang di Atas berkehendak, ia yang tak religius pun terdiam dan membisu.
Merasa gagal menjadi seseorang yang sudah bodoh tapi harus terjatuh lagi untuk kesekian kali, si bodoh kini membawa beban yang tak sedikit ia harus berpikir berkali-kali untuk semua kemungkinan yang akan terjadi nanti, apakah ia bisa merelakan sesuatu yang terpenting pergi?
Si bodoh di depan kaca, masih terdiam. Ia masih memikirkan hal-hal yang membuatnya tak bisa tidur, tentang kuliahnya, tentang teman-temannya, tentang keluarganya, dan tentang masalah yang belum juga usai namun permasalahan baru terus datang dalam hidupnya, semua meminta untuk diselesaikan dan diperhatikan, naas si bodoh yang gue lihat hanya bisa menghela nafas. Ia mencoba meraih satu demi satu, mencoba mencari puzzle yang hilang untuk ia rangkai dan tata lagi menjadi satu. Begitu sejak beberapa tahun lalu.
Ku tak selalu begini, terkadang hidup memilukan. Jalan yang ku lalui untuk sekedar bercerita. XI Pegang tanganku ini dan rasakan yang ku derita. Genggam tanganku ini, genggam perihnya kehidupan. https://t.co/49dRo5HC38
— shutdown -r (@noteadit) February 27, 2021
Hingga si bodoh di depan kaca gue ini, tersenyum getir ia ingin berjuang namun tak kuasa menahan beban yang ada, ia jatuh dan berlutut, sempat berpikir tuk menyerah dengan keadaan, sayangnya si bodoh ditampar oleh realita pahit bahwa hidupnya harus terus berjalan apapun yang terjadi.
Hari ini saat usia nya bertambah, si bodoh juga begitu senang karena hari ini tidak diketahui oleh siapapun, baik orang tuanya, keluarganya, sahabatnya dan temannya, bahwa hari ini ia bertambah usia, karena ia percaya tak ada hari yang spesial dalam hidupnya, semua akan sama seperti hari lainnya terus berada di balik awan melihat mereka yang dibawah mengambil peran.
Hidup bukan hanya perihal pilihan, bukan hanya melupakan, dilupakan ataupun terlupakan, bukan pula sebatas meninggalkan atau ditinggalkan, hidup lebih dari sekedar pilihan dan hari dimana semua bermula tidak lebih dari hari biasa, tak perlu dicatat sebagai hari yang spesial. XI
— shutdown -r (@noteadit) February 27, 2021