Bagaimana kata yang tepat untuk menuliskan perasan gue hari ini, apa kata yang tepat untuk menggambarkan rasa sakit hati dan terisak dalam sepi, tangis yang tak lagi dapat terbendung, terisak-isak seperti tak lagi bisa berdiri.
Kamis, hari ini gue terbangun seperti biasa, usai begadang, sahur, tidur sejenak, kuliah tentunya, dan tiba-tiba kakek gue sakit, (lagi) setelah 17 april lalu darahnya naik 200, sekarang hari ini untuk berdiri saja kesulitan, gue bingung gue cariin makan, gue beliin lontong sama bakso, gue nunggu pakdhe buat bawa ke dokter, sampe sore hari gue masih kebingungan, untung Vido yang awalnya mau ngajak keluar akhirnya malah ngebantu dan nolong buat bawa kakek ke klinik deket rumah, gue kira semua bakal baik-baik aja sampai sana kakek gue udah lemes gak karuan, langsung di infuse.
Selang gue pulang untuk ngambil ktp, saat itu juga buka puasa gue dikasih tau kalau akan dirujuk ke RS terdekat, gue bingung, gue pusing. What will happens? Dengan terburu-buru dan rasa sesak akan ragam pertanyaan seraya berharap semoga semua baik-baik saja, gue berangkat menyusul Ambulan, dan hari ini kesabaran gue bener-bener diuji.
Salah satu RS swasta ini strict to rules, dari dateng check up depan IGD kakek gue lansia umur 80+ harus ada di depan ruangan IGD tanpa kepastian kamar, gue nungguin dari di test antigen, hasil antigen non reaktif negatif sampai rontgen yang mengharuskan dokter paru menyarnakan untuk ditest swab besok pagi, gue bingung gue kalut, karena gue gatau harus gimana, telfon sana-sini ngabarin sana-sini cari pendapat, sampai akhirnya yaudah isolasi, gue berharap kalaupun di swab hasilnya negatif. Semoga.
Tapi nyatanya ga se-simple itu dari jam tujuh malem, dengan semua drama. Kakek baru dapet kamar barusan, barusan. 10 menit yang lalu, hampir pukul duabelas malam, tapi gue mencoba bersabar bahwa ya ini kebijakan RS dan untuk keselamatan tentunya.
Doain ya, hope the best, gue gatau lagi harus gimana. What should I do? Gue harap semua baik-baik aja.