Seperti halnya kejadian-kejadian random yang sampai saat ini kita gak tau apa sebabnya, semua kejadian yang kita alami dalam hidup membawa kita menuju hal yang diluar apa yang kita ketahui, seperti pertemuan-pertemuan kecil yang berujung pada persahabatan, atau kejadian yang harus memisahkan kita dari orang yang tersayang.
Banyak hal yang terjadi dalam hidup gue dan salah satu yang membuat gue hancur adalah kehilangan, kejadian ini buat gue rapuh. Entah bagaimana setiap kehilangan meninggalkan bekas luka yang begitu dalam benak gue, seperti waktu gue harus kehilangan teman-teman sekitar rumah, teman main dari kecil. Yang sampai saat ini mungkin kenagannya masih gue ingat, tapi gak akan pernah bisa terulang sama. Bareng-bareng kumpul dan ketawa-tawa sampai kadang gak tau celaan siapa yang bikin ketawa atau cerita siapa yang paling nyeremin ketika ngomongin hal yang kadang kita alamin dan belum pernah cerita ke satu sama lain.
Kehilangan pertama gue terjadi ketika teman-teman gue, salah satunya; fajar yang pergi untuk transmigrasi, gue bener-bener ngerasa kehilangan karena ya bagi gue dia salah satu temen yang ngajarin gue banyak hal, ngenalin gue gimana rasanya bebas, mau ngapain aja. Belum usai fajar pergi, temen gue gilang ikutan pergi bukan cabut ke lain kota melainkan udah ga sejalan dengan pertemanan masa kecil yang dulunya main bola, coba-coba belajar musik bareng, main layangan di sore hari. Sejak gilang kenal motor, dia merasa senengnya dia disana. Dan gue kehilangan temen gue satu lagi. Tersisa dua orang aja. Itupun mereka silih berganti pergi dan datang lagi karena sempet transmigrasi juga.
Kejadian kehilangan kedua adalah, patah hati pertama gue. Awal dari segala ketidaknyamanan yang gue rasakan hingga sekarang, move on nya cukup susah, dari naksir adik kelas yang berujung harus merelakan karena udah jadi pacar temen sendiri, seneng sama temen sekelas tapi dia lagi deket sama temen lo, dan giliran ketemu kakak kelas yang lo pikir, mungkin bisa jadi orang yang yah she is. Ternyata enggak berujung baik juga, ketika lo menyadari bahwa ya lo terlalu kekanak-kanakan. Yang paling sakit bukan ngeliat dia pergi, tapi ngeliat dia pergi dan bareng temen lo sendiri. Haha.
Singkat cerita, kejadian kehilangan ketiga di 2017. Kehilangan kepercayaan, apa yang lo bangun dan mulai hancur karena kesalahan lo sendiri dalam mengelola sesuatu dengan tidak baik, ketika kepercayaan luntur ya hancur semua, apa yang dibangun susah-susah.
Kehilangan selanjutnya, baru aja terjadi. Kali ini kehilangan orang-orang terdekat dari bude gue awal tahun 2020 kemarin, tiga dosen gue yang cukup dekat dan baik banget, kehilangan adik gue untuk selama-lamanya di tahun, dan menyusul kakek gue juga. Berat rasanya kehilangan seseorang. Gak ada apa-apanya dibanding kejadian kehilangan yang selama ini gue rasakan, ini yang paling pahit. Kehilangan seseorang yang berharga dalam hidup.
Gue gak hanya gagal sebagai kakak, gue juga gagal sebagai ponakan, dan cucu. Tiga anggota keluarga gue meninggalkan gue selama-lamanya hanya dalam kurun satu tahun. Rasanya dunia gue runtuh, gue gak tau lagi bagaimana harus berjalan dengan arah yang pasti. Tapi yang gue tau, gue harus tetap melangkah, karena kejadian ini bukan terjadi karena tidak ada sebab, maksud dan tujuan.
Gue yakin, suatu saat gue akan mulai menyadari dan bisa mengambil pelajaran dari semua kehilangan yang gue alami, yah walaupun sampai saat ini gue masih takut akan kehilangan, takut kalau gue memang gak layak untuk mendapatkan apa yang gue inginkan, seperti lirik lagu Di Balik Awan;
Pegang tanganku ini, dan rasakan yang ku derita
Apa yang kuberikan, tak pernah jadi kehidupan.
Semua yang kuinginkan, menjauh dari kehidupan
Nazril Irham, Peterpan – Di Balik Awan