Mungkin rasanya akan jauh lebih mudah menetertawakan hidup yang kita jalani, beragam lika-likunya yang entah bagaimana rasanya begitu komedi aja kalau dirangkum satu persatu, ada banyak orang menganggap hidup adalah kompetisi yang dia buat sendiri, berkompetisi dengan dirinya, dengan orang lain yang bahkan gak tau kalau diajak kompetisi tiba-tiba udah colong start duluan, lalu merasa menang atas apa yang dia rasa sebuah kompetisi.
Ada juga yang merasa hidup adalah persinggahan, jadi yang dilakukan hanya sewajarnya saja, bahagia sewajarnya, sedih sewajarnya dan menikmati hidup dalam kesederhanaan. Walaupun kadang ada rasa ingin lebih, namun melihat sekitar ia merasa sudah cukup. Bahwa hidupnya tak lebih hanya sesaat dan ia memilih menikmati setiap menit yang dia miliki.
Lantas, apa hanya dua tipe tersebut? Yang terburu-buru dan yang perlahan menikmati keadaan? Gak juga, ada banyak tipe ada banyak hal yang bisa jadi pilihan dalam menjalani hidup, adapula yang tenggelam dalam kesedihan sampai lupa untuk bangkit dan berlari kembali, rasanya semua dunia runtuh seketika sampai ia tak bisa bangkit dari reruntuhan yang sebenarnya bisa ia angkat satu persatu, naasnya beban yang harusnya dapat dibantu, memilih untuk disimpan sendiri.
Semua hal yang terjadi, nyatanya menjalani hidup gak harus apa kata orang, gak harus membuat orang memvalidasi bahwa hidup kita berharga, bahwa lo dianggep, bahwa kita ada karena anggapan mereka, atensi dan validasi semakin dicari gak menjamin bahagia, walaupun bagi sebagian orang hal ini tentu jadi sebuah prestasi tersendiri.
Memaknai bahagia dan kesedihanpun begitu, gak harus selalu berlarut-larut, semoga aja sih haha. Soalnya gue juga bingung, kadang terlalu menikmati kesedihan sampai lupa cara bahagia, ujung-ujungnya cuman ketawa aja, ya menertawakan hidup sendiri jauh lebih seru dibanding jadi bahan tertawaan orang lain.
Merasa bahwa hidup terlalu menyedihkan dan sulit dijalani pun bukan pilihan, kok terlalu memble rasanya kalah sama perasaan, kalah dengan realita yang sebenarnya bisa kita pilih mau kemana arahnya, gak harus selalu menjadikan patokan bahagia orang lain jadi bahagia kita, begitupun dengan menjalani hidup, mau berkompetisi, mau sewajarnya, mau yang melebih-lebihkan masalah ya silahkan aja, atau mau yang gak neko-neko yaudah ngeliat aja dari jauh.
Boleh-boleh aja, gak ada larangan kan. Toh gak menyakiti siapapun, gue perlahan menyadari bahwa tiap-tiap chapter dalam hidup begitu berharga, sampai kapanpun akan bisa teringat dalam hal random sekalipun, termasuk saat gue nulis kayak gini, rasanya seperti de javu aja ngomong sama diri sendiri lewat tulisan, mencoba membuat otak ini tetap berfungsi dan punya temen ngobrol.
Kalau dibilang kayaknya tiap orang punya sakit, gue mungkin akan setuju itu. Penyakit mental, fisik semua sama aja gak ada yang harus diabaikan, semua harus diobati tapi menuju kesana tentu butuh banyak pengorbanan, banyak langkah sebelum akhirnya lo bener-bener bisa sehat mental dan fisik bukan? Dahlah gue ngomong apasih ngelantur sampai kayak gini, kayak loncat-loncat aja gitu.