Tendangan dari Langit: Dominasi Warna Merah dan Kisah Sepak Bola yang Menginspirasi

"Tendangan dari Langit" menampilkan dominasi warna merah dan kisah inspiratif Wahyu, anak muda yang berjuang mengejar impian di dunia sepak bola.
Mau ngejawab The Night Come For Us tapi bukan dominan warna melainkan darah yang merah semua hahaha. Kalau menurut gue sih adegan film Indonesia dengan dominan warna merah adalah Tendangan dari Langit pada saat scene di Stadion di akhir film. Simple nya karena jersey Persema pada waktu itu memang dominan warna merah.


Dulu memang saat gila-gilanya bola Indonesia selain ya gue emang suka Manchester United. Kalau liga Indonesia dulu suka sama Arema era 2009-2011 bukan Arema yang sedang bermasalah saat ini ya. Tapi melihat film yang mengemas cerita dari sudut pandang lain liga Indonesia seperti Tendangan dari Langit ini ngebuat gue dulu menanti-nantikan saat tayang di Televisi karena pada era 2011 mana ada Bioskop di Banyuwangi. Selain Tendangan dari Langit dulu juga ada Hari Ini Pasti Menang. Memang lagi gila-gilanya bola tuh, dulu aja gue pernah punya blog staradit27 dan a-phenomenon yang ngebahas tentang bola isinya.


Ceritanya tentang Wahyu anak dari Langitan, lereng Gunung Bromo yang dari keluarga pas-pasan di Langitan yang punya bakat main bola. Meskipun ayahnya nggak setuju, Wahyu tetap bandel dan tetap maksa buat main karena ia punya talenta untuk berkembang di sepak bola. Kalo gak dimintain ma Pak Lek Hasan (Agus Kuncoro), manajer bola amatir, buat main di klub kecamatan Karang Sari, talentanya bakal terkubur di debu pasir Bromo.

Ayahnya, Pak Darto (Sudjiwo Tejo), jadi karakter antagonis yang ngelarang Wahyu main bola. Tapi, ada alasannya. Masa lalu Pak Darto bikin dia ngerasa harus menghalangi impian putranya. Meski dilarang, Wahyu gak nyerah. Trus, dia ketemu Timo Scheunemann di Malang, yang jadi titik terang buat impian Wahyu. Film "Tendangan Dari Langit" tuh sebenernya keren buat dijadiin tontonan santai. Tapi, kayaknya Hanung si sutradara punya niatan buat ngasih "sentilan" ke penonton dengan pake Sujiwo Tejo buat ngasih komentar sinis tentang sepakbola di Indonesia.

Jangan kena tipu sama poster film Tendangan Dari Langit yang nunjukin Bachdim sebagai pemeran utama. Dia cuma muncul 30 menit doang di paruh akhir. Pun jangan harap bakat main bola Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan jadi fokus di film ini, karena cuma jadi peran minor.  Pemeran utamanya, Yosie Kristanto, berhasil bikin karakter Wahyu tampil meyakinkan dan bikin kita ngerasa deket banget sama dia.



Selain Wahyu, jajaran pemeran Tendangan Dari Langit juga keren abis. Sujiwo Tejo dan Agus Kuncoro bikin kita kagum banget sama akting mereka. Khusus buat Sujiwo Tejo, karakter Darto dikasih dialog-dialog tajam berisi kritik sosial dan politik yang lucu. Dia bener-bener ngena. Hanung Bramantyo juga berhasil mengarahkan para pemain buat keluarin kemampuan akting terbaik mereka, termasuk cameo beberapa pemain bola nasional. Hasilnya, pemeran Tendangan Dari Langit tampil solid banget.

Sayangnya, bagian percintaannya kurang bisa bikin gue baper walaupun dengan hadirnya Maudy Ayunda dan kisahnya terlalu diperumit dengan masalah percintaan lain. Tapi untungnya, karakter pendukung lain bisa ngehiburin penonton dengan komedinya yang lucu banget.

Dan ini adalah potret adegan dimana kebanyakan warna merah mendominasi disetiap adegan saat Persema tanding melawan Jayakarta FC di Liga Primer Indonesia saat itu adalah liga resmi dari PSSI menggantikan ISL yang juga  bergulir dan tidak resmi membuat gejolak di liga kita saat itu, dan film ini hadir untuk meredam dan menghibur penggemar sepakbola. Khususnya setelah euforia AFF kala itu.



Seperti film-film Hanung Bramantyo lainnya, produksinya mantap abis. Sinematografi Faozan Rizal yang dapetin keindahan alam Bromo bikin kita nganga. Kolaborator Hanung di bidang musik, Tya Subiakto, juga kasih musik yang pas buat film ini. Kadang musiknya bikin jalan cerita jadi lebih hidup. Lagu-lagu dari band Kotak juga dipake dengan baik buat nunjukin jalan ceritanya. Overall, film ini memuaskan banget!







Sinematografi8
Akting8
Skenario dan Cerita7
Backsound dan Musik8

Sinopsis

Wahyu memiliki kemampuan luar biasa dalam bermain sepakbola. Ia tinggal di Desa Langitan di lereng gunung Bromo bersama ayahnya, penjual minuman hangat di kawasan wisata gunung api itu, dan ibunya. Demi membahagiakan orangtuanya, Wahyu memanfaatkan keahliannya dalam bermain bola dengan menjadi pemain sewaan dan bermain bola dari satu tim desa ke tim desa lain dengan bantuan Hasan, pamannya. Pak Darto, ayah Wahyu sangat tidak menyukai apa yang dilakukan anaknya. Keahlian istimewanya tak sengaja dilihat oleh pelatih Timo yang tengah hiking bersama Matias di lereng Bromo. Timo kemudian menawari Wahyu untuk datang ke Malang dan menjalani tes bersama Persema Malang. Berbagai ujian dalam meraih kesempatan emas bermain bersama Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan di Persema mendapat banyak halangan. Selain harus memilih antara cintanya kepada Indah dan impiannya untuk bermain bola di jenjang yang lebih tinggi, Wahyu juga harus mampu meyakinkan Pak Darto. Belum lagi ternyata Hasan memiliki kepentingannya sendiri terhadap Wahyu. Selain berbagai rintangan yang harus ia hadapi, layaknya seorang pemain bola sebelum mencetak gol, Wahyu juga harus menghadapi tantangan terakhir dari dirinya sendiri. Sebuah penyakit yang biasa menyerang anak-anak usia enam belas tahun seperti Wahyu.
8.0
Skor

Posting Komentar

© #NoteAdit - Aditya Bintang Perdana. All rights reserved. ##