Lagi enak-enak ngobrol, temen gue bilang satu hal yang cukup bikin gue mikir juga.
'Anak-anak yang jarang ikut syuting itu, apa gak merasa aneh ya.''Gue aja nih, kalau gak diajak malah takut dan mikir apa gue udah gak dipercayai lagi. Atau kinerja gue buruk?'
Obrolan terjadi karena gue pesen baju 'Syuting Bayaran Sego' yang di inisasi vandi, salah satu temen pertama awal-awal masuk kuliah. Ya gue nya sih beli untuk support ya, btw 'sego = nasi' kalau lo pada tanya kenapa? Karena ya mahasiswa jadi ketika bantuin syuting selain dapat pengalaman ya hanya dapat terima kasih dan nasi bungkus.
Mereka masih lanjut ngobrol dan yang lain nimpalin,
'Sama, malah gue mikir apa kemampuan gue udah gak dibutuhin.''Gue aja iri, kalau gak diajak.'
Gue yang dengerin percakapan mereka cuman bisa diem, karena gue termasuk yang jarang syuting itu, gue termasuk yang gak ikutan banyak syuting selain syuting film untuk kebutuhan tugas atau kebutuhan kampus. Paling bantuin temen juga bukan bagian dari kru on set, melainkan dibelakang layar yang hanya nyumbang tenaga lewat pikiran bukan benar-benar hadir untuk support.
Obrolan makin riuh, temen gue ada yang mengarahkan telunjuknya ke gue. Sebagai contoh yang jarang ikut syuting film diluar tugas, dan yang lain menanggapi selain gue siapa aja, disebutinlah satu-satu nama yang ada.
Disitu gue cuman diem, sembari ya mengamini apa yang mereka bicarakan. Karena gue ya memang gak merasa capable untuk hadir dan menjadi bagian dari kru film. Terakhir kali gue terlibat dalam film ya tugas akhir untuk semester 6 kalau gak salah, 2021 lalu. Uhm jadi lighting man, bantuin temen gue yang jadi Gaffer.
Disitu gue cuman diem, sembari ya mengamini apa yang mereka bicarakan. Karena gue ya memang gak merasa capable untuk hadir dan menjadi bagian dari kru film. Terakhir kali gue terlibat dalam film ya tugas akhir untuk semester 6 kalau gak salah, 2021 lalu. Uhm jadi lighting man, bantuin temen gue yang jadi Gaffer.
Gue ngerasa gak perform disitu, gak bantu banyak. Karena selain banyak pikiran, usai kehilangan adik gue yang meninggal karena kanker. Gue juga bingung aja, malah jadi kru cabutan padahal inti, bantuin jadi manajer lokasi, nutup dan buka jalan. Balik lagi ke jobdesk utama gue jadi lightingman ya gitu-gitu terus selama semingguan syuting.
Emang salah gue gak banyak cerita atau jelasin gue kenapa, yang tau cuman sutradara gue aja, kondisi gue gitu jadi dia memaklumi, yang lain mungkin menganggap gue unprofesional dan itu benar. Gue bikin banyak kesalahan sepertinya dalam syuting terakhir gue itu sebagai kru on location.
Kalau cuman nyumbang tenaga pikiran doang mah, ya cukup adalah beberapa judul yang gue terlibat, tapi gak ada di lokasi syuting. Termasuk ketika diajak temen untuk bantu film TA dia yang akan datang, gue sempat berpikir mending gak usah ditulis aja gue di credit title.
Kenapa gue bilang gitu, ya gue paham anggapan teman-teman ke gue dan ketidakpercayaan anak-anak terhadap kinerja gue yang ada benarnya, selama empat tahun lebih kuliah gue gak pernah bener-bener ada atau ngerjain porsi yang besar. Hanya sekenanya aja. Tapi kadang terlalu banyak omongnya daripada aksinya, mungkin sebagian kesal juga haha ngeliat gue yang males ikutan tapi banyak kritiknya.
Kenapa gue bilang gitu, ya gue paham anggapan teman-teman ke gue dan ketidakpercayaan anak-anak terhadap kinerja gue yang ada benarnya, selama empat tahun lebih kuliah gue gak pernah bener-bener ada atau ngerjain porsi yang besar. Hanya sekenanya aja. Tapi kadang terlalu banyak omongnya daripada aksinya, mungkin sebagian kesal juga haha ngeliat gue yang males ikutan tapi banyak kritiknya.
Terlampau jauh sih, ketertinggalan gue dalam keikutsertaan persyutingan duniawi ini. Selain karena gue lebih seneng bikin konten yang ringan aja ya, gue emang ngerasa gak cocok berada di dalam tanggung jawab yang besar.
Karena ya tentu, gue nya aja yang sepertinya gak bisa dan gak mau untuk step in, maju gitu buat ngambil porsi yang lebih banyak keikutsertaannya, takut salah tentu. Takut untuk mengambil tanggungjawab yang mungkin aja bisa bikin banyak orang kecewa, tentu.
Karena ya tentu, gue nya aja yang sepertinya gak bisa dan gak mau untuk step in, maju gitu buat ngambil porsi yang lebih banyak keikutsertaannya, takut salah tentu. Takut untuk mengambil tanggungjawab yang mungkin aja bisa bikin banyak orang kecewa, tentu.
Mendengar, melihat banyaknya cerita yang kurang mengenakan ya tentunya di syuting-syuting yang telah lalu. Jadi bikin mikir, kalau gue nantinya mungkin ada kesalahan yang serupa, apakah akan dibicarakan juga dibelakang? Terlalu berlebihan memang, ya gimana lagi.
Terlampau jauh, garis rentang yang udah ada. Ibaratnya temen-temen satu angkatan gue udah berjibaku jatuh bangun untuk mempersiapkan masa depan mereka. Gue nya masih disini-sini aja dengan segala permasalahan pribadi yang gak ada ujungnya. Rasanya tentu, ya it is what it is. Gak ada keinginan lebih, cuman kayaknya untuk waktu yang cukup singkat bersama mereka ini, memang lebih nyaman menjadi pendengar dan melihat dari jauh, teman-teman berproses menuju apa yang menjadi cita-cita dan asa mereka.
Sementara gue, cukuplah bingung dengan skripsi dan bagaimana cara lulus dengan selamat di penghujung tahun ini.
Terlampau jauh, garis rentang yang udah ada. Ibaratnya temen-temen satu angkatan gue udah berjibaku jatuh bangun untuk mempersiapkan masa depan mereka. Gue nya masih disini-sini aja dengan segala permasalahan pribadi yang gak ada ujungnya. Rasanya tentu, ya it is what it is. Gak ada keinginan lebih, cuman kayaknya untuk waktu yang cukup singkat bersama mereka ini, memang lebih nyaman menjadi pendengar dan melihat dari jauh, teman-teman berproses menuju apa yang menjadi cita-cita dan asa mereka.
Sementara gue, cukuplah bingung dengan skripsi dan bagaimana cara lulus dengan selamat di penghujung tahun ini.