Rasanya sebenarnya gak mudah untuk mulai balik lagi kayak gini, belajar
lagi untuk membuat keputusan-keputusan penting dana dipercayai atas hal
tersebut. Terakhir kali gue ditempatkan dalam posisi seperti ini rasanya
memang menyesak kan. Karena seringkali berjalan sendirian, inginnya begitu,
inginnya seperti itu. Seolah gue bisa nih menghadapi semua yang ada di depan
gue walau harus tertatih dan jatuh berulang kali.
Gue mengakui bukan orang yang mudah untuk diajak bekerjasama, kadangkala ketika gue merasa terbebani dengan hal yang gue lakuin sendiri gue menghilang ditengah-tengah perjalanan lalu kembali seolah semua baik-baik saja. Padahal timeline yang udah gue susun sempat berantakan karena mental gue yang gak sanggup untuk hal-hal yang gue sendiri gak tau kalau akan terjadi.
Rentetan kejadian di tahun 2016-2017 masih membekas, pelik dan terus menghantui. Sampai akhirnya disini, ditahun-tahun masa perkuliahan sempat bersemangat diawal untuk hajar semua yang gue tau dan gue mampu,namun ternyata gue salah. Melihat banyaknya potensi temen-temen, gue mulai menarik tuas rem dan mundur perlahan-lahan dari spotlight. Mengalihkan fokus gue ke hal lain, dan ternyata hal lain tersebut kini walau masih tertatih sejak gue gak terlibat lagi, gue melihatnya dengan sedikit bangga. UKM yang gue bentuk dari ide iseng bareng Daffa, bisa berjalan nampak baik setidaknya.
Nah yang kali ini, gue kembali ngebantu temen-temen seangkatan. Bedanya apa? Kan gue udah sering bantu-bantu juga? Bedanya kali ini gue punya porsi yang gak biasanya gue ambil, karena biasanya gue gak mau ambil field post. Atau orang lapangan, gue maunya selalu ya gue di belakang layar belakangnya lagi. Sedangkan kali ini gue hadir sebagai orang belakang layar yang juga punya peran untuk menyukseskan rencana-rencana temen gue yang udah mereka susun. Sebelumnya gue hanya membantu untuk melancarkan, porsinya gak besar.
Kali ini, sejak Stephanie ngajak gue buat bantuin dia riset untuk film tugas akhir dokumenternya. Gue kembali diajak lagi dalam film tugas akhir, memang dengan orang yang gue kenal lama. Orang yang bisa dibilang juga temen awal-awal gue ketika masuk kampus, orang yang dengan mudahnya percaya ke gue, ngedukung gue juga, bantuin banyak tugas gue dimana gue butuh.
Inget temen-temen gue di postingan gue sebelumnya? 2 orang yang bahu membahu untuk jualan di depan sekolah demi ngumpulin setidaknya modal untuk tugas akhirnya? Yak gue terlibat disana, walaupun gak akan sepenuhnya hadir dalam produksi, gue punya tugas untuk bantu mereka mewujudkan mimpinya.
Beberapa bulan ini misalnya, dari developing naskah sampai kemarin gue sama Ben nyari tempat buat rapat kru dan negosiasi ke vendor baju, gue bisa ngeliat gimana Ben tau apa yang dia pengen. Gue pengen tuh kek gitu, tau dengan apa yang gue mau.
Walaupun banyak kejadian yang kadang bikin ketawa, bikin geleng-geleng kepala sendiri dan gue gak tau harus gimana ngeresponnya. Gue sendiri juga bingung harus gimana nyeritain semua hal yang lagi terjadi saat ini. Di kepala gue penuh dengan cerita yang gue gak tau harus gimana jelasinnya. Tapi gue pengen cerita haha, jadi ya gini catatan gak penting gue selalu gini, random.
Dan ternyata gak cuman Ben dan Novandhie yang ngajak gue gabung ke tugas akhir film. Tiba-tiba salah satu temen gue Tiara, ngajakin gue untuk ikutan juga di tugas akhir filmnya dia yang kemungkinan berselang satu bulan. Gue awalnya dilematis karena tugas gue di Ben dan Novandhie adalah pasca/post produksi. Setelah ngobrol dan mempertimbangkan hari ini gue ketemu dengan Tiara dan dengerin konsep tugas akhirnya dia, dan jadilah gue sekarang juga ikutan di tugas akhirnya dia sebagai Production Asisstant.
Ini yang bikin gue nulis gini, lagi-lagi gue kembali ditarik untuk membuat keputusan-keputusan penting buat orang lain, dan gue harus mau untuk mulai ngelakuin itu. Dan melupakan apa yang pernah terjadi di beberapa tahun kebelakang, mulai dari 0 aja. Jadi Adit yang setidaknya gak akan mengulangi kesalahan yang dia buat.
Apalagi urusannya lagi-lagi bertemu dengan orang baru, dan orang yang umurnya mungkin terlampau jauh, orang-orang yang tentunya gak mudah untuk diajak kerjasama kalau bentuknya gak pasti.
Anyway, semoga gue mampu dan gak mengecewakan siapapun.
Gue mengakui bukan orang yang mudah untuk diajak bekerjasama, kadangkala ketika gue merasa terbebani dengan hal yang gue lakuin sendiri gue menghilang ditengah-tengah perjalanan lalu kembali seolah semua baik-baik saja. Padahal timeline yang udah gue susun sempat berantakan karena mental gue yang gak sanggup untuk hal-hal yang gue sendiri gak tau kalau akan terjadi.
Rentetan kejadian di tahun 2016-2017 masih membekas, pelik dan terus menghantui. Sampai akhirnya disini, ditahun-tahun masa perkuliahan sempat bersemangat diawal untuk hajar semua yang gue tau dan gue mampu,namun ternyata gue salah. Melihat banyaknya potensi temen-temen, gue mulai menarik tuas rem dan mundur perlahan-lahan dari spotlight. Mengalihkan fokus gue ke hal lain, dan ternyata hal lain tersebut kini walau masih tertatih sejak gue gak terlibat lagi, gue melihatnya dengan sedikit bangga. UKM yang gue bentuk dari ide iseng bareng Daffa, bisa berjalan nampak baik setidaknya.
Nah yang kali ini, gue kembali ngebantu temen-temen seangkatan. Bedanya apa? Kan gue udah sering bantu-bantu juga? Bedanya kali ini gue punya porsi yang gak biasanya gue ambil, karena biasanya gue gak mau ambil field post. Atau orang lapangan, gue maunya selalu ya gue di belakang layar belakangnya lagi. Sedangkan kali ini gue hadir sebagai orang belakang layar yang juga punya peran untuk menyukseskan rencana-rencana temen gue yang udah mereka susun. Sebelumnya gue hanya membantu untuk melancarkan, porsinya gak besar.
Kali ini, sejak Stephanie ngajak gue buat bantuin dia riset untuk film tugas akhir dokumenternya. Gue kembali diajak lagi dalam film tugas akhir, memang dengan orang yang gue kenal lama. Orang yang bisa dibilang juga temen awal-awal gue ketika masuk kampus, orang yang dengan mudahnya percaya ke gue, ngedukung gue juga, bantuin banyak tugas gue dimana gue butuh.
Inget temen-temen gue di postingan gue sebelumnya? 2 orang yang bahu membahu untuk jualan di depan sekolah demi ngumpulin setidaknya modal untuk tugas akhirnya? Yak gue terlibat disana, walaupun gak akan sepenuhnya hadir dalam produksi, gue punya tugas untuk bantu mereka mewujudkan mimpinya.
Related post:
Ben dan Novandhie, dua temen gue ini udah apa ya bisa
dibilang terlibat diberbagai hal yang gue lalui diawal-awal semester sebelum
covid menyerang, dan di tahun-tahun terakhir perkuliahan seperti saat ini.
Kita udah ngobrolin hal ini cukup lama, dari ngebahas konsep dan alotnya gue
untuk menerima tawaran mereka ngebantu Distribusi film tugas akhir ini,
karena gue sendiri gak yakin dengan diri sendiri, gimana mau yakin. Terlalu
banyak hal yang bikin gue mengecewakan orang banyak, tapi mereka bisa
percaya dan akhirnya gue mengiyakan ajakan mereka ini.Beberapa bulan ini misalnya, dari developing naskah sampai kemarin gue sama Ben nyari tempat buat rapat kru dan negosiasi ke vendor baju, gue bisa ngeliat gimana Ben tau apa yang dia pengen. Gue pengen tuh kek gitu, tau dengan apa yang gue mau.
Walaupun banyak kejadian yang kadang bikin ketawa, bikin geleng-geleng kepala sendiri dan gue gak tau harus gimana ngeresponnya. Gue sendiri juga bingung harus gimana nyeritain semua hal yang lagi terjadi saat ini. Di kepala gue penuh dengan cerita yang gue gak tau harus gimana jelasinnya. Tapi gue pengen cerita haha, jadi ya gini catatan gak penting gue selalu gini, random.
Dan ternyata gak cuman Ben dan Novandhie yang ngajak gue gabung ke tugas akhir film. Tiba-tiba salah satu temen gue Tiara, ngajakin gue untuk ikutan juga di tugas akhir filmnya dia yang kemungkinan berselang satu bulan. Gue awalnya dilematis karena tugas gue di Ben dan Novandhie adalah pasca/post produksi. Setelah ngobrol dan mempertimbangkan hari ini gue ketemu dengan Tiara dan dengerin konsep tugas akhirnya dia, dan jadilah gue sekarang juga ikutan di tugas akhirnya dia sebagai Production Asisstant.
Ini yang bikin gue nulis gini, lagi-lagi gue kembali ditarik untuk membuat keputusan-keputusan penting buat orang lain, dan gue harus mau untuk mulai ngelakuin itu. Dan melupakan apa yang pernah terjadi di beberapa tahun kebelakang, mulai dari 0 aja. Jadi Adit yang setidaknya gak akan mengulangi kesalahan yang dia buat.
Apalagi urusannya lagi-lagi bertemu dengan orang baru, dan orang yang umurnya mungkin terlampau jauh, orang-orang yang tentunya gak mudah untuk diajak kerjasama kalau bentuknya gak pasti.
Anyway, semoga gue mampu dan gak mengecewakan siapapun.