Gak Lagi Mau Gambling di Bioskop?

Apa udah gak worth it, nonton film di Bioskop dengan random. Apa harus selalu liat ulasan?
Entah bagaimana gue merasa, sekarang kita gak mau lagi buat capek-capek ke Bioskop untuk nonton film yang lagi baru tayang dan gambling apakah film ini akan bagus atau film ini akan jelek? Rasa keingintahuan itu nampaknya udah hilang sejak pandemi menyerang. Bagaimana tidak, sekarang mulai banyak orang yang memilih untuk menahan rasa penasaran atau rasa ingin tahu ke film terbaru hanya karena punya pendapat kalau filmnya toh akan mampir di video on demand atau OTT ternama.

Hal ini ngebuat gue jadi agak terganggu, memangnya se gak worth it itu kah ngeluarin uang Rp. 50.000 average lah ya, rata-rata. Untuk nonton film yang lagi happening misalnya. Atau film baru yang mungkin gak aware, kita gak tau. Dulu tuh perasaan gue kalau nonton film ya kayak liat trailer abis itu, berpikir "Boleh nih, agendakan nonton deh." Meskipun nantinya mengecewakan sekalipun, paling tidak gue udah nonton dan tau. Oh filmnya kek gini. Nah sejak pandemi orang lebih suka nonton yang bisa di skip-skip ke bagian yang mereka pengen aja. Gue benci banget kek gini. Kayak kejadian di kedai temen gue, Ben di Otelu. Ada sekumpulan anak-anak nonton film tapi di skip-skip ke part yang mereka mau nonton aja. 

Apa sekarang cara nonton orang beda ya, karena udah terpapar video pendek 1 menitan dan video-video ringkasan film 20 menit dengan latar musik jedag-jedug itu. Atau ya se simple memang lebih enak nonton kalau kita yang pegang kendali? Di Twitter hari ini misalnya ada film yang baru aja tayang udah ditanyain. Ada di online gak sih? Eh filmnya udah ada di link haram. Lah film baru tayang loh.


Dah gila kali ya? Sampai akun official Sony pictures Indonesia reply dengan emote sedih. Haha yang itu lucu sih. Ya maksud gue kalau memang gak mau nonton secara legal ya itu pilihan elo tapi jangan dishare di sosmed juga dong. Kan film juga baru tayang aja, benar filmya telat tayang di Asia. Tapi kan gak seharusnya begitu juga.

Ada lagi nih, film Indonesia yang gak biasa genre nya. Sleep Call dari Fajar Nugros. Baru juga tayang di bioskop udah ada yang mau nungguin kalau muncul di Netflix. Oke gue bisa paham kalau orang-orang ini mungkin jauh dari Bioskop terdekat karena memang toh kita layar bioskop gak sebanyak itu diluar pulau Jawa. Bahkan di Jawa sendiri masih kekurangan layar atau bioskop di kota-kota kecil. Kota gue aja deh misalnya, di Banyuwangi. Cuman ada 2 bioskop, itupun dikuasai New Star Cineplex dengan monopoli harganya, walaupun udah ada kabar Kota Cinema akan segera buka di Banyuwangi. Tapi 3 Bioskop akan terasa kecil kalau daerahnya terlalu luas?



Balik lagi deh ke masalah film. Apa mungkin memang pandemi mengubah gaya cara nonton kita yang sudah terlalu nyaman di rumah aja? Karena sekarang kita juga enggan kalau berbelanja keluar rumah. Karena adanya layanan delivery via aplikasi sekarang serba dipermudah gak sih? Termasuk ya nonton film. Karena dengan bayar gak sampai ratusan ribu. Kita bisa nonton banyak film sekaligus, ini memang rasanya membantu banyak orang yang gak ada bioskop di daerahnya dan akses ke bioskop mungkin terlalu jauh atau bahkan memang gak ada waktu senggang ketika filmnya tayang dan dia gak bisa nonton langsung.

Tapi gue herannya, kalau gini-gini terus akan lesu perfilman di Indonesia dengan dibombardir nya genre yang itu-itu aja karena yang laku memang itu. Ketika bikin diluar genre yang lagi populer akhirnya lesu dan berakhir di OTT saja. Itu juga yang mungkin sekarang banyak PH film mulai memutar otak dan mendistribusikan beberapa film mereka hanya di OTT saja, bahkan ada yang original film hanya ada di OTT tersebut sampai masa kontrak berakhir.

Kalau memang seperti itu, lantas bagaimana bisa genre yang ada di Bioskop beragam? Kalau memang akhirnya berakhir di OTT semua. Apakah menyelamatkan atau malah mematikan, walaupun akhirnya membantu kita juga, bahkan bisa jadi arsip untuk selamanya. Meskipun ada beberapa yang hanya ada di OTT tertentu sampai kontraknya habis dan film tersebut kembali ke PH yang membuatnya.
Gue sih pengennya keduanya berjalan selaras, kita juga masih mau untuk gambling nonton Bioskop walaupun gak tau filmnya akan bagus atau gak, plus kita juga mau untuk nonton film melalui layanan streaming kalau mau nonton film legal.

Posting Komentar

© #NoteAdit - Aditya Bintang Perdana. All rights reserved. ##