Satu dekade, begini-begini saja. Lima tahun pertama, masih menjadi manusia yang percaya bahwa mimpi mampu melampaui segalanya. Lima tahun berikutnya, ia mulai mempertanyakan mimpinya. Walau terus berusaha, jatuh dan bangun, segalanya terasa seperti pelarian semata.
Sepuluh tahun berlalu, hujan yang sama masih mengguyurnya. Naasnya, bagaimanapun rintiknya menerpa, hujan tetap terasa menyakitkan sekaligus menyenangkan dalam satu waktu. Ia hanya bisa tersenyum, karena tahu, setelah hujan reda, segalanya kembali seperti semula.
Untuk kesekian kalinya, ia sadar bahwa membuang waktu, mengulur hari, dan membiarkannya berlalu adalah kebiasaan yang terus ia ulangi. Bukannya jera, ia justru terjebak dalam diam, tanpa tahu jawabannya.
Waktu terbuang begitu panjang, dari Maret hingga November. Entah apa yang ada di kepalanya. Padahal, ini bukan pertama kalinya. 13/14, 16/17, bahkan November 2020 hingga Mei 2021—semuanya berlalu tanpa pelajaran berarti. Ia masih saja belum sadar bahwa waktu tak mengenal kata "nanti." Waktu tetap berjalan, tak pernah menanti. Lalu, sekarang apa? Ragukah?
Tahun berganti, akankah berakhir sama? Atau kali ini, ia mulai sadar bahwa tak selamanya bisa terus berlari? Bersembunyi hanya untuk menutupi semua yang telah terjadi? Naasnya, ketakutannya terlampau besar, hingga nyalinya ciut sendiri.
Setahun berlalu, ia masih menjadi pecundang yang mengasihani diri sendiri atas keputusan-keputusan bodoh yang dibuat. Seolah tak paham konsekuensi, hingga realita menampar keras: tak semua hal harus diperjuangkan dengan effort yang sama. Bagi waktu, tentukan prioritas. Jangan terus berlari.