Sebagai mahasiswa perfilman yang memilih untuk kurang aktif dalam pembuatan film, tentu cukup mengagetkan ketika salah satu teman mengajak untuk bergabung bersama dalam pembuatan film tugas akhirnya. Karena gue sama sekali gak ada kepikiran kearah sini sebelumnya, walaupun seringkali terlibat dalam beberapa project sebagai content writer, tapi yang satu ini gue diminta membantu langsung dalam ranah produksi yang sama sekali belum pernah gue cicipin sebelumnya.
Tawaran ini berlangsung cukup sulit untuk akhirnya gue terima dengan segala konsekuensi nya. Awal pertama kali Ben ngajak gue gabung ke dalam kru tugas akhirnya bermula karena gue seringkali nongkrong bareng dia dulu sama Arya sebelum mereka berdua akhirnya memutuskan untuk sesering mungkin terlibat dalam produksi film.
Hingga akhirnya akhir April 2023 lalu gue mengiyakan ajakan itu untuk ikut dalam kru pembuatan film tugas akhir Ben dan Novandie, yang pada akhirnya membuat gue ikut terjebak dalam ranah produksi film yang sebelumnya hanya sebagai penuntasan mata kuliah dan membantu teman, jadi lebih daripada itu. Ikut turun dan memikirkan konsep dari pra-produksi hingga pasca-produksi karena jobdesk gue yang sebenernya adalah produser pasca, namun karena kegoblokan gue pribadi yang membuat gue ikut-ikutan dalam pra-produksi dan produksi walaupun dengan kontribusi yang minim tentunya.
Mengikut perjalanan pembuatan film Sirna Dalane Pati dari awal membuat gue makin yakin dua teman baik gue tersebut adalah orang gila. Berhasil mengumpulkan sekitar 60 kru dengan waktu yang mepet, mencari-cari lokasi pengambilan gambar hingga membuat timeline produksi mundur, proses casting yang ribet hingga dana yang terbatas. Gue sebenernya sempat mencoba membantu lewat jalur mencari sponsor yang berujung agak sia-sia, menghabiskan beberapa waktu persiapan. Pitching gagal, kesepakatan gak terjadi, dan gak ada jaminan fresh money yang bisa masuk ke kantong produksi.
Film Sirna Dalane Pati akhirnya masuk produksi, bertempat di Jember dengan beberapa lokasi pengambilan gambar. Rumah utama yang kita berhasil dapatkan izin nya dengan negoisasi yang cukup pelik di Kebonsari, sekolah menengah pertama di daerah Slawu, perkebunan tebu dan karet di Kalisanen lalu terakhir Rumah tua yang menjadi alasan mundurnya timeline produksi karena tidak terbitnya izin dari salah satu instansi walaupun sudah dibantu oleh Dinas Pariwisata sekalipun. Dari perizinan nya saja, membuat semua kru was-was. Tapi nyatanya produksi dengan waktu 8 hari itu berjalan dengan lancar walau tentu tak menampik adanya beberapa hambatan.
Produksi film ini bisa gue kategorikan jadi salah satu produksi film yang seru karena tantangan-tantangan nya gak hanya berakhir di masa pra-produksi dan produksi saja. Dari kru yang tiba-tiba jatuh sakit, bentrok dengan persiapan gue yang terlibat di produksi film lain, bahkan hingga perizinan arus listrik yang membuat gue sempat geleng-geleng kepala.
Selama delapan hari kurun waktu pengambilan gambar gue gak hadir penuh, karena porsi gue hanya membackup produser utama jika berhalangan hadir atau memang sedang dibutuhkan di set. Tapi anehnya walapun ada spare waktu pun skripsi gue juga gak selesai-selesai ya? Hahaha.
Masuklah kita ke ranah pasca-produksi, setelah lelah dengan semua produksi film dimana gue terlibat di ketiga film yang sedang berlangsung saat itu, baik gue, Ben dan Novandie mencoba mengatur waktu dan timeline pasca-produksi kembali karena timeline kita sempat berantakan dan gak berjalan sebagaimana mestinya, dari kafe ke kafe, co-working space sampai kampus yang kita bicarakan hanya perihal ranah pasca yang harus segera diputuskan pada bulan Februari lalu. Cek-cok udah jadi makanan sehari-hari kita bertiga bahkan sampai pada titik membahas hal diluar ranah pasca-produksi yang kalau sekarang gue inget jadi hal yang konyol sih untuk diperdebatkan, toh setengah dari perdebatan itu tidak terjadi dan bahkan gak sempat di realisasikan.
Usai segala perdebatan dan timeline pasca-produksi, mulailah tahap pengerjaan yang mereka lakukan secara terpisah dan berbarengan. Dari raffcut, scoring, pembenahan dialog hingga foley, visual efek dan perwarnaan film dilakukan hanya empat orang. Gue cuman jadi orang yang menghampiri mereka untuk mengantarkan makan atau hanya cross-check sejauh mana proses berjalan karena waktu sudah menyempit, disamping gue juga menyiapkan beberapa promo untuk special screening nanti.
Semangat kedua temen gue ini bener-bener gak ada duanya, bahkan rela tidur di lab audio berhari-hari sampai hari special screening di bioskop tiba, walaupun terpotong waktu hari raya, tapi gue bener-bener salut. Di hari terakhir mereka di lab audio yang AC nya sampai mati karena sepertinya sudah menyerah dipakai berhari-hari untuk mendinginkan suhu laptop dan komputer yang berjibaku memproses film ini, gue juga disibukan dengan kru pagelaran yang gue pasrahkan ke adik tingkat yang baru saja memasuki semester ke empat mereka, rada ada gila-gilanya mengingat gue, Ben dan Novandie sudah kepala 2 semester nya, dua belas semester jadi donatur tetap kampus melalui UKT.
Mempersiapkan special screening film ini rumit juga, dari masalah tiketing, poster hingga media promosi dan kerjasama dengan berbagai pihak hingga akhirnya film berhasil diputar dan bertemu dengan penonton di bioskop lokal Jember. Tantangan nya mungkin gak bakalan terlihat sulit, tapi waktu dilalui ya sangat melelahkan karena pada saat special screening banyak hal teknis yang terjadi dari masalah tiket, penempatan bangku, waktu yang molor karena masalah teknis yang membuat penonton sempat jengah dan permasalahan gue sebagai produser post-pro yang lupa cross-check ulang credit title yang mengakibatkan beberapa orang tidak tertulis, karena sepertinya terhapus, padahal udah dua kali test screen, walaupun memang di test screen terakhir gue sempat jatuh sakit bahkan hingga selesai special screening tersebut.
Cuman itu sih yang bisa gue ceritain dari sudut pandang orang yang gak pernah ikut-ikutan dalam ranah pembuatan film tugas akhir, jadi sebuah pengalaman baru di penghujung semester tua ini, bagi orang yang gak lulus-lulus, gak tau mau ngapain, ikut dalam sebuah acara sebesar ini dari pembuatan hingga penayangan membuat gue belajar kalau proses itu gak mudah, gak cepat dan gak mungkin sempurna. Dalam berproses bersama tentu akan terjadi kesalahan, akan terjadi perdebatan dan semua itu bumbu dari belajar dan berproses bersama-sama, bahkan untuk gue yang udah memasuki umur-umur yang tentu udah gak muda lagi, tapi melihat semangat temen-temen gue, melihat antusiasme penonton mendukung film lokal dan independent seperti ini, rasanya seneng aja gitu. Semoga hal-hal seperti ini, yang gue rasain gak berhenti di gue aja, bisa jadi ada yang mau memberi kesempatan seperti Ben & Novandie yang udah ngasih gue kesempatan untuk turut serta dalam pembuatan film tugas akhir mereka, walaupun mereka tahu gue bukan siapa-siapa dan gak ada riwayat nya gue pernah turut serta dalam proses pembuatan film tugas akhir.