Gue harus mulai dari mana, ya? Mungkin dari satu pertanyaan yang muter-muter di kepala gue setelah menonton darama ini. Miku Ubukata, kenapa sih lo sekejam ini?
Jujur, kelar nonton Umi no Hajimari, perasaan gue campur aduk antara kagum sama kesel setengah mati. Kagum karena ceritanya dibangun rapi banget, semua pertanyaan dijawab pelan-pelan. Tapi kesel karena, ya ampun, ceritanya bikin gue tersiksa batin! Ini bukan lagi nonton drama, ini kayak ikut diseret ke dalam lautan penyesalan yang nggak ada ujungnya. Betul sih, melodrama tentu pasti melow tapi gak gini juga kan? Ayolah terlalu sedih wooi.
Pemicu semua kekacauan ini kan cuma satu: komunikasi yang ancur. Dan biang keladinya, maaf-maaf nih, adalah Mizuki.
Gue ngerti, dia sayang banget sama Natsu. Dia nggak mau jadi beban buat masa depan Natsu yang waktu itu lagi getol-getolnya kuliah biar bisa kerja di perusahaan gede. Gue paham. Tapi solusinya? Ngambil semua keputusan sendirian? Seriously?
Dia yang hamil, dia yang minta Natsu tanda tangan surat persetujuan aborsi. Eh, pas di rumah sakit, dia juga yang mutusin buat nggak jadi aborsi, sendirian. Tanpa bilang Natsu. Terus, dengan entengnya dia mutusin Natsu lewat telepon, sambil bohong udah nemu cowok lain. Logikanya di mana? Katanya sayang, tapi kok tega banget ngegantungin orang dalam kebohongan selama delapan tahun?
Ini yang bikin gue paling emosi. Hubungan itu isinya dua orang, kan? Keputusan itu harusnya jadi milik "kita" bersama, bukan "gue" diri sendiri. Mizuki secara egois udah nyuri kebahagiaan Natsu yang mungkin bakal seneng banget kalo tau Umi ada. Dia juga nyuri kebahagiaan Umi yang harusnya bisa ngerasain punya ayah dari kecil. Semua demi bayangan di kepalanya sendiri, asumsi yang dia ciptain sendiri kalo dia bakal jadi beban. Keterlaluan.
Terus kita pindah ke Natsu. Ya ampun, ini karakter telminya (telat mikir) kebangetan. Terlalu baik sampe bego. Diputusin lewat telepon, diboongin punya cowok lain, dan dia diem aja? Nggak nyamperin? Nggak marah? Nggak nanya siapa cowoknya? Kalo dia beneran khawatir, harusnya dia cek dong kondisi Mizuki setelah "prosedur" itu, apa ada komplikasi atau apa. Tapi apa yang dia lakuin? Nggak ada. Dia cuma pasrah, nerima, dan lanjut hidup. Baru pas delapan tahun kemudian, setelah semuanya telat, dia mulai belajar sedikit demi sedikit. Gregetan gue liatnya.
Belum lagi Yayoi. Dia ada di waktu yang salah, oke. Tapi pas dia udah mulai nerima Umi, kenapa dia harus lari cuma gara-gara sepucuk surat dari Mizuki? Dia dikasih pilihan buat egois, buat milih kebahagiaannya sendiri, tapi malah kabur. Masalah tuh dihadepin bareng-bareng, bukan ditinggalin. Dia lari dari masalah yang sebenernya bisa banget diobrolin sama Natsu.
Dan ujung-ujungnya, siapa korban dari semua ini? Umi.
Anak sekecil itu harus nanggung semua akibat dari ego dan keputusan sepihak orang-orang dewasa di sekitarnya. Dia harus kehilangan ibu, terus tiba-tiba punya ayah yang kayak orang asing. Dia harus beradaptasi sama perubahan yang bahkan orang dewasa aja kewalahan. Umi itu cerminan dari laut, tenang di permukaan, tapi nyimpen badai di dasarnya. Dia jadi korban paling murni dari cerita yang bikin frustrasi ini.
Jadi, kalo lo nanya gue, "ini serial bagus nggak?" Gue bakal jawab, "Bagus banget, tapi siap-siap mental aja."
Ini bukan tontonan buat nyantai sore-sore sambil ngopi. Ini tontonan yang butuh energi lebih, butuh stok sabar yang banyak, dan yang paling penting, butuh sekotak tisu. Lo bakal ikut marah, ikut nangis, ikut ngerasa bersalah, dan ikut bertanya-tanya.
Gue cuma mau bilang, nonton Umi no Hajimari itu kayak sengaja nyakitin diri sendiri. Tapi anehnya, lo nggak bisa berhenti. Dan mungkin, di situlah letak kejeniusan sekaligus kekejaman drama ini.
Dan gue bakal ninggalin lo dengan pertanyaan yang sama yang menghantui gue: Kalo emang ini semua bukan salah siapa-siapa, kenapa mereka nggak bisa bersama?
Lantas, salah siapa? Kita tidak benar-benar tahu, balik lagi ke pertanyaan gue tadi dan semua kemarahan gue kepada penulis skenario nya. Ampun.
Seperti pernyataan awal gue diawal, drama ini ditulis dengan apik, dipadukan dengan jajaran pemeran yang tepat untuk mengangkat tema besarnya yakni: kehilangan. Kehilangan bukanlah salah siapapun, melalui kehilangan banyak hal berubah dan setiap karakter dalam cerita ini mengalaminya. Terutama Umi, yang harus kehilangan ibunya di usianya yang baru menginjak tuju tahun. Bagi Natsu, Mizuki sudah lama "Hilang" dari hidupnya, bahkan sejak Mizuki memutuskan untuk tidak memberi tahu bahwa ia tidak jadi melakukan aborsi dan memilih melahirkan Umi seorang diri. Betapa aneh rasanya, tiba-tiba mengetahui bahwa ia memiliki anak, lalu harus menanggung rasa bersalah atas keputusan mantan kekasihnya yang keras kepala dan egois.
Umi menjadi korban dari semua ini. Ia menderita lebih dalam dibandingkan karakter lainnya. Dan yang membuat kita, para penonton, ikut frustrasi adalah karena cerita ini terasa begitu dekat dengan kenyataan. Kita frustrasi melihat Umi tak memikirkan dirinya sendiri. Berbeda dengan Mizuki yang egois, Umi justru tahu bahwa untuk bisa bahagia, seseorang kadang harus menerima kesedihan dalam hidupnya.
Tapi kalau harus jujur dan meluapkan rasa marah, maka marah gue jatuh kepada penulisnya. Seperti pernyataan gue diawal, kenapa harus sekejam ini? Kenapa harus menyusun cerita yang begitu menyayat, menyoroti cinta seorang perempuan yang terlalu besar, sampai ia rela mengorbankan segalanya demi masa depan pria yang bahkan tak tahu apa-apa? Kenapa tidak dibicarakan dulu?
Kalau kita tanya dari mana asal laut? 'Umi' jawabannya jelas: dari hubungan Natsu dan Mizuki. Keduanya sama-sama ceroboh di masa muda, dan keputusan mereka menciptakan luka yang begitu dalam bagi Umi. Padahal, di sepanjang serial ini Umi terlihat bahagia. Tapi kita tahu itu cuma gambaran palsu, fiksi. Terlalu tegar untuk seorang anak yang awalnya hidup tanpa ayah, dan akhirnya tumbuh tanpa ibu. Ini memang cerita yang menarik. Tapi kenapa harus sepedih itu?
Kalau memang Mizuki sebegitu sayangnya pada Natsu, apa pantas ia berkorban sendirian hanya karena rasa sayang itu? Ini keterlaluan. Bahkan kita gak tahu pasti kenapa dia bisa kena kanker serviks. Apa karena melahirkan di usia muda? Apa karena trauma berkepanjangan? Yang jelas, semua hancur karena keputusan-keputusan sepihak.
Dan meski Mizuki selalu bilang tidak menyesal, bahwa ia bahagia karena bisa melahirkan Umi… tetap saja, rasanya nggak adil. Bahkan saat ada kesempatan untuk bahagia bersama Tsuno, dia nggak ambil. Karena terus menerus memikirkan Natsu lewat Umi.
Dan lo mulai mikir: Memang gak bisa ya lanjut hidup dengan orang lain?
Sebegitu dalamnya kah cinta Mizuki pada Natsu, sampai-sampai Umi dijadikan satu-satunya alasan untuk terus terjebak di masa lalu? Melihat Umi langsung teringat Natsu? Whei, romantis sekali ya anda Mizuki. Tapi bego, itu Tsuno udah baik, kurang apalagi? Tanggungjawab, peduli, penyayang. Huft.
Kalau bisa menyalahkan tanpa mempedulikan bagaimana cerita ini dirancang, gue akan menyalahkan satu hal: Kenapa dari awal Mizuki nggak bilang ke Natsu bahwa dia tidak jadi aborsi?
Karena toh, pada akhirnya, Umi tetap tinggal bersama Natsu. Dan semua ini mungkin bisa berjalan berbeda… kalau saja ada keberanian untuk bicara. Dan satu lagi: kenapa penulisnya harus terus-menerus mendorong pesan “utamakan diri sendiri, jangan bergantung pada orang lain” tapi dalam praktiknya, malah menciptakan karakter yang hancur karena memendam semua sendirian?
Mizuki yang awalnya memutuskan untuk aborsi, lalu meminta Natsu tanda tangan, kemudian membatalkannya tanpa memberi tahu siapa pun. Yayoi yang merasa tidak pantas menjadi ibu Umi karena merasa berdosa atas aborsi di masa lalu. Semua karakter ini seolah dipaksa memendam, tanpa ruang untuk berdialog. Kenapa? Kenapa harus begini?
Ini kayak aktivis yang teriak “It’s my choice,” padahal… semua bisa dibicarakan. Gak perlu sampai sejauh ini. Gak perlu selalu nurutin apa kata orang. Dengerin apa kata orang.
Dan balik lagi, harusnya nggak ada lagi kata “aku”, “diriku”, atau “gue” dalam sebuah hubungan. Karena hubungan itu bukan tentang satu orang, tapi dua. Setiap keputusan harusnya dibicarakan, diputuskan bersama. Bukan sepihak. Meskipun banyak yang bilang "kebahagiaan itu ada di tangan kita sendiri", tapi akan ada masanya kita harus merelakan kebahagiaan pribadi demi sesuatu yang lebih besar dan kuncinya adalah menjalani semua itu bersama, bukan sendiri-sendiri.
Kalau Mizuki hanya berpikir bahwa kebahagiaannya adalah Umi, lalu bagaimana dengan Natsu, yang dulu pernah menggantungkan kebahagiaannya pada hubungan mereka? Dan bagaimana dengan Umi, yang hanya ingin satu hal sederhana dalam hidupnya: punya keluarga yang utuh, ayah dan ibu di sisinya? Fak ini bisa loh kejadian, waktu Umi dan Mizuki mau nyamperin Natsu tapi waktu itu Natsu keluar rumah bareng Yayoi, kan gak harus putus si Yayoi sama Natsu, yang penting ada waktu bareng. Toh lo mau meninggal in the end Mizuki, ngalah dikit kek sama kebahagiaan anak.
Saat Mizuki memutuskan untuk “tidak merepotkan” Natsu dan menyimpan rahasia besar yakni melahirkan Umi dan merawatnya sendirian, karena ia melihat Natsu sedang mempersiapkan kuliah dan ingin bekerja di perusahaan besar, ia langsung mengambil kesimpulan sendiri, bahwa kehadirannya dan kehadiran anak itu hanya akan menjadi beban.
Tapi itu hanya asumsi. Asumsi yang mencuri potensi kebahagiaan dari Natsu. Padahal siapa tahu, Natsu bisa bahagia kalau tahu dia punya anak. Orang tua Natsu juga mungkin akan menerima. Tapi dengan pilihannya sendiri, Mizuki justru menciptakan badai untuk dirinya, untuk Natsu, untuk Umi, dan untuk semua orang yang terlibat.
Natsu pun gak ada bedanya kan, seperti diawal dia pasrah pas diputusin Mizuki gak ada minta klarifikasi kek, nyari tau, marah? Dia terlalu baik. Saking baiknya sampai nggak tahu apa yang sebenarnya dia mau. Nggak bisa ekspresikan apa yang dia rasa, nggak bisa ambil keputusan cepat. Tapi ya… Natsu tetap pasif. Nggak ngapa-ngapain. Hanya belajar perlahan-lahan, sementara waktu dan kesempatan terus lewat.
Jadi kalau gue boleh nyalahin sesuatu, gue nyalahin kenapa cerita ini dibangun di atas diam-diaman, asumsi, dan pengorbanan sepihak. Padahal semua bisa dibicarakan. Semua bisa diselesaikan. Kalau aja mereka percaya bahwa dalam hubungan, gak boleh ada “aku” atau “gue” yang mutusin segalanya sendirian. Yah, pada akhirnya kalau semua what if yang gue susun di kepala ini terjadi, gak akan ada drama jepang Umi no Hajimari yang bikin gregetan ini. Kalau mereka bikin what if season. Pecah sih.
Anyway, kalau lo memutuskan untuk menonton serial drama ini. Selamat menonton. Oh ya bisa ditonton di Rakuten atau klik link disini