Jadi Melo karena Drama Melo Movie?

Melo Movie menceritakan tentang pertemuan Ko Gyeom dan Kim Mu-bee, dua orang yang berbeda, namun berbagi duka dan memiliki dunia yang saling beririsan

Lagi-lagi, melodrama menjadi tontonan yang benar-benar membuat pusing sekaligus menggemaskan. Entah bagaimana cara memproses emosi campur aduk setelah menonton serial drama Korea di Netflix ini: MeloMovie. Terdiri dari 10 episode, masing-masing berdurasi sekitar 60 menit, drama ini berhasil membawa kita seolah masuk langsung ke dalam cerita di setiap episodenya. Sebuah kisah yang, pada akhirnya, mengajarkan bahwa hidup harus terus berjalan apa pun yang terjadi.

Melo Movie menceritakan tentang pertemuan Ko Gyeom dan Kim Mu-bee, dua orang yang berbeda, namun berbagi duka dan memiliki dunia yang saling beririsan. Gyeom adalah seorang maniak film sejak kecil, bukan semata karena ia suka menonton atau bercita-cita menonton semua film di dunia, melainkan karena itu adalah caranya menghabiskan waktu dalam kesendirian. Itu pula cara ia bisa berinteraksi dan mengobrol dengan kakak laki-lakinya, Ko Jun. Sementara itu, Kim Mu-bee justru membenci film, sama seperti ia membenci ayahnya yang tergila-gila pada dunia tersebut. Ayahnya bahkan meninggal karena kelelahan di lokasi syuting ketika bekerja di industri film. Sebenci apa pun ia pada film-film buruk buatan ayahnya dan pada namanya sendiri yang terdengar seperti plesetan dari “Movie”. Mu-bee tetap memilih kuliah di jurusan film dan bekerja di industri yang sama.

Di sanalah ia bertemu Gyeom. Pertemuan itu membawa mereka saling berbagi cerita dan jatuh hati. Namun, ketika Ko Jun mengalami kecelakaan, Gyeom yang fokus merawat kakaknya lupa memberi kabar pada Mu-bee. Ia lupa bahwa komunikasi adalah hal terpenting dalam sebuah hubungan. Mu-bee, yang merasa kembali ditinggalkan seperti saat ayahnya mengabaikannya, memutuskan memblokir Gyeom bahkan sebelum Gyeom sempat menghubunginya.

Lima tahun berlalu, mereka kembali bertemu ketika Mu-bee berhasil mewujudkan impiannya membuat film melo. Entah bagaimana, Gyeom hadir sebagai tamu undangan sekaligus kritikus film posisi yang kerap menjadi “musuh” sutradara. Ada pula momen-momen lucu, seperti ketika Mu-bee melarang Gyeom muncul lagi di hadapannya. Namun takdir berkata lain: Ko Jun membeli rumah yang ternyata berseberangan dengan rumah Mu-bee. Pertemuan tak terhindarkan lagi, meski Gyeom berusaha menghindar dengan tingkah konyol yang justru semakin membuat Mu-bee kesal. Hingga akhirnya, mereka mulai berdamai, dan Mu-bee membuka blokir Gyeom.

Mereka kemudian melakukan “kebetulan yang disengaja” atas ajakan Gyeom berpura-pura bertemu secara tak sengaja di suatu tempat, lalu menghabiskan waktu berdua. Hubungan tarik-ulur ini membuat penonton ikut tersenyum, walau kebersamaan itu kembali terganggu saat Gyeom membatalkan pertemuan karena Ko Jun hampir mengalami kecelakaan lagi. Keesokan harinya, Gyeom berniat meminta maaf, namun Mu-bee lebih dulu mengajaknya melihat matahari terbenam. Meski rencana gagal karena mobil mogok, momen inilah yang menjadi awal baru bagi mereka. Perhatian-perhatian kecil yang dilakukan Gyeom secara konsisten akhirnya meluluhkan hati Mu-bee untuk kedua kalinya.

Cerita mereka juga menggali detail latar belakang yang penting. Salah satunya adalah keinginan Gyeom agar Ko Jun memiliki mimpi dan tujuan hidup selain mengurus dirinya. Gyeom merasa sejak kematian orang tua, Ko Jun terlalu mengorbankan diri. Hingga akhirnya, Gyeom menyadari bahwa ia tak pernah benar-benar mengenal kakaknya sendiri. Di sisi lain, Mu-bee tumbuh dengan trauma akan kehilangan ayahnya. Rasa takut ini membuatnya memendam perasaan dan tampak tangguh. Maka, ketika Gyeom kembali muncul setelah lima tahun, Mu-bee dihadapkan pada dilema, bagaimana menghadapi perasaan yang belum selesai itu? Konflik terbesar datang ketika Gyeom kehilangan Ko Jun untuk selamanya. Perasaan ditinggalkan membuatnya hancur, namun Mu-bee hadir untuk meyakinkan bahwa ia tidak sendirian. Gyeom pun memutuskan berhenti menulis kritik film karena merasa sudah cukup menonton film, kini ia telah menemukan “film” terbaiknya dalam hidupnya dengan berbagai genre, yakni bersama Mu-bee.

Meski seolah fokus cerita hanya berkutat pada Gyeom dan Mu-bee, ada dua tokoh lain yang kisahnya tak kalah menarik, bahkan terasa lebih dekat dengan permasalahan yang sering kita jumpai di kehidupan nyata. Bagaimana rasanya jika hubungan yang telah lama terjalin tiba-tiba berakhir secara sepihak, tanpa penjelasan? Lalu lima tahun kemudian, orang yang sama kembali hadir… seperti kebetulan yang terlalu tepat untuk disebut kebetulan? Itulah kisah getir Hong Si-jun dan Son Ju-a.

Si-jun adalah teman Gyeom semasa SMA, sementara Ju-a adalah cinta pertama Si-Jun. Si-jun selalu menganggap dirinya orang pertama yang jatuh hati, padahal kenyataannya, Ju-a-lah yang lebih dulu menaruh perasaan. Mereka sama-sama saling suka, tapi tidak benar-benar saling memahami. Selama tujuh tahun, hubungan mereka berjalan di atas pengorbanan Ju-a. Si-jun, sosok cuek yang kabur dari rumah demi musik, terlalu bersandar pada Ju-a. Sementara Ju-a, yang ingin didengar dan dimengerti, merasa hanya menjadi pelengkap. Ia menemani kegagalan demi kegagalan Si-jun, hingga akhirnya ia jenuh menunggu perubahan dan memilih putus agar mereka bisa fokus pada hidup masing-masing.

Lima tahun berselang, Ju-a sukses. Naskahnya difilmkan. Sementara Si-jun masih bertahan sebagai bartender paruh waktu, terjebak di hidup yang berhenti sejak perpisahan itu. Pertemuan mereka kembali terjadi dengan cara yang nyaris seperti adegan film. Si-jun sedang berada di bioskop, pandangannya tertuju pada poster sebuah film yang ditulis oleh Ju-a, bertanya-tanya dalam hati: “Apakah ini cerita tentang kita?” Dari kejauhan, Ju-a melihatnya, membeli tiket yang sama, lalu menghampiri. Mereka akhirnya duduk bersama, dua orang asing yang saling mengenal, berbagi bangku di ruang gelap, sambil membawa masa lalu yang belum selesai.

Menonton interaksi mereka seperti melihat dua orang yang marah pada diri sendiri. Si-jun merasa berhak marah, tapi mungkin tak sadar, semua yang ia lakukan dulu lebih untuk ego daripada untuk Ju-a. Sementara Ju-a pun berhak marah karena menunggu terlalu lama tanpa kepastian. Perbedaannya, Ju-a mampu mengubah lukanya menjadi kekuatan untuk tumbuh, sedangkan Si-jun lupa bahwa perubahan hanya bisa dimulai dari dirinya sendiri.

Kisah mereka bersinggungan lagi saat Mu-bee memilih naskah Ju-a, yang ternyata adalah kisah cinta mereka untuk difilmkan. Untuk proyek ini, Ju-a membutuhkan musik latar dari Si-jun. Bagi Si-jun, ini seolah seperti Ju-a memberinya kesempatan untuk “diselamatkan”. Bagi Ju-a, ini langkah profesional yang tak terhindarkan. Proses itu menjadi perjalanan emosional di mana Si-jun akhirnya harus belajar merelakan bahwa hubungan itu benar-benar telah selesai. Kisah Si-jun dan Ju-a menjadi kontras dari Gyeom dan Mu-bee. Yang satu berusaha mengikhlaskan, yang lain berjuang memulai. Dan di situlah drama ini menemukan keseimbangannya.

Choi Woo-shik sebagai Ko Gyeom: Tampil sebagai sosok yang selalu terlihat ceria dan berusaha membahagiakan orang lain, meskipun sebenarnya tidak selalu demikian. Ia menyembunyikan luka dan perasaannya dengan sangat rapat. Aktingnya sebagai Gyeom terasa solid dan menyentuh.

Park Bo-young sebagai Kim Mu-bee: Memerankan anak yang kurang mendapat perhatian dari ayahnya, serta takut memberi ruang bagi orang lain karena khawatir akan ditinggalkan. Semua rasa takut dan kerentanan itu tersampaikan dengan sangat kuat lewat ekspresi wajah dan sorot matanya. Rasanya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kemampuan aktingnya.

Lee Jun-young sebagai Hong Si-jun: Sosok yang cuek dan seolah tak peduli pada sekitarnya, bahkan pada hidupnya sendiri. Sifat itu tak berubah meski ia mengalami patah hati terhebat. Si-jun digambarkan sebagai orang yang tampak tegar namun sebenarnya rapuh—dan itu terasa jelas bagi penonton lewat aktingnya.

Jeon So-nee sebagai Son Ju-a: Sama kuatnya dalam mengimbangi lawan mainnya. Karakter Ju-a diperlihatkan sebagai seseorang yang berjuang sendirian, terlalu percaya, namun juga lelah—entah lelah menunggu ketidakpastian atau lelah dalam memperjuangkan sesuatu. Semua itu tergambar jelas di raut wajahnya: sayang, ingin bertahan, tapi juga ingin menyerah.

Sebenarnya, ada banyak hal lain dalam 10 episode MeloMovie, terutama tentang pembuktian diri. Menonton drama ini rasanya melelahkan sekaligus membuat ketagihan. Kalau dibandingkan, kisah Si-jun dan Ju-a justru terasa lebih seru untuk diikuti. Ada pertanyaan yang terus muncul: kenapa kita harus bertemu dengan seseorang kalau pada akhirnya tidak bisa selamanya bersama? Kenapa kita sulit untuk jujur pada perasaan masing-masing? Apakah ego dan harga diri yang menghalangi semua itu?

Salah satu adegan pembuka yang paling berkesan adalah dari episode 9 yang berjudul Kita Bagai Orang Asing yang Saling Kenal. Rasanya aneh, kita mengenal seseorang, punya kenangan dan sejarah bersama, namun kini semuanya terasa asing dan berbeda. Secara keseluruhan, MeloMovie adalah tontonan yang akan membuat kita berpikir panjang. Ia cocok ditonton baik sendirian maupun bersama orang lain; bisa menjadi bahan obrolan hangat setelah menonton, atau bahkan menjadi bahan perenungan yang mendalam.

Posting Komentar

© #NoteAdit - Aditya Bintang Perdana. All rights reserved. ##