Kayaknya udahan deh gue publish draft mentah yang gue publish di txtperdana.com. Toh orang ternyata lebih suka kalau baca dengan poin-poin atau segmentasi yang mereka ingin ketahui dibanding membaca perspektif cerita tanpa jeda.
Bagi gue sih sama bagusnya. Cuman gue jadi mikir, kalau gue juga publish draft mentahnya di blog pribadi, padahal hasil akhirnya agak beda dengan draft gue, nanti orang mikir kalau gue plin-plan lagi. Udah dirubah, tapi mau mempertahankan draft awal. Tapi gue emang kayak gitu sih, suka bimbang dengan pilihan sendiri. Pantes novel yang ditulis sejak SMP sampai saat ini mangkrak, gak pernah selesai.
Selain karena rasanya udah sempat hilang, gak berani ngehapus draft awal adalah masalah. Draftnya jelek enggak, cuman kurang cocok aja untuk saat ini. Sama kayak tulisan yang gue buat untuk txtperdana.com, yang tujuannya bukan orang baca cerita pengalaman personal, melainkan informasi yang mungkin buat mereka tertarik dan penasaran.
Kalau gaya bahasanya tetap nyeret-nyeret, siapa juga yang mau baca? Ada sih, tapi kan gak cocok untuk konsumsi banyak orang. Jadi kayaknya gue akan sudahi setelah ada 6 postingan yang sama dengan hasil yang gue publish di txtperdana.com.
Mungkin nanti draftnya gue simpen di laptop aja, atau ya sudah buang. Prosesnya untuk jadi hasil akhir kan gak mudah juga. Haha, itulah keresahan gue pagi ini. Baru nyadar pas nulis tentang halstage soalnya. Kok sebenernya draft awal gue sama hasil akhir gak jauh beda. Perbedaan mencolok paling di cara penyampaian dan segmentasi. Selain itu ya sama aja, gaya bahasanya aja beda dikit, dari personal jadi POV orang ketiga.
Udah sih, itu aja. Hahaha.