Sebenernya mau ketawa aja sih, tapi kok ya terlalu lucu dan menyedihkan secara bersamaan. Gimana enggak, mungkin gue udah tau, udah ngerti bahkan cukup memahami permasalahan ini sejak sepuluh tahun lalu? Walaupun sempat bounce back, balik goblok lagi, ngelakuin kesalahan yang sama berulang kali sampai mungkin temen-temen gue bosen ngeliat gue ngulang siklus yang sama dengan keadaan yang berbeda namun kebodohan nya ya gak jauh dari itu-itu aja sih.
Permasalahan yang gak pernah usai, seakan gue sakaw dan meracau kalau gak bikin kesalahan yang sama untuk kesekian kali. Bahkan mereka yang dulunya sering bilang "Lo, emang gak capek gini terus." atau, mereka yang sempat berkata "Jangan sering merendah gitu dong, lo bisa kok. Capable malah." Tapi, entah bagaimana semakin diyakinkan. Semakin, mereka mencoba berkata kalau gue pasti bisa. Gue yang malah semakin berkata "Kayaknya, enggak dulu. Ada yang lebih jago, ada yang bisa handle ini jauh dari gue." Padahal kesempatannya ada, padahal semuanya dukung. Tapi, karena gak yakin dengan diri sendiri inilah yang menghambat gue berulang kali.
Ketika ada yang ngasih tau gue gak bisa, malah gue yang mau ngebuktiin kalau gue bisa. Ketika gak ada yang minta tolong, gue malah dengan suka rela nolongin dan merasa dibutuhkan. Padahal, gue rasa mereka ga butuh-butuh banget bantuan dari gue. Ada atau tidaknya gue disitu pun. Harusnya gak begitu berpengaruh dengan hasil yang ada. Naasnya, ini berulang berkali-kali sampai gue kadang muak sendiri.
Ada apa sih, kenapa kok gue begitu ya? Ada masalah apa sebetulnya? Pernah konsultasi dengan psikolog walaupun hanya via chat, yang terjadi malah ketakutan. Takut kalau sebenarnya ada masalah yang jauh lebih kompleks dari permasalahan yang muter-muter di kepala gue ini. Pernah maju-mundur untuk menemui psikolog berkali-kali, walau sampai detik ini. Gue gak pernah nyoba sama sekali tatap muka secara langsung, maupun daring dengan psikolog. Hanya satu kali, dan itupun via chat. Untuk kak nago dan sesinya bareng kumparan dulu, iya lo bener haha.
Walaupun denial, seperti apapun. Mengelak, gak akan mengubah keadaan kalau ada satu hal yang lebih besar dari hanya sering mengingat hal-hal yang seharusnya gak gue ingat atau gak gue pikirkan. Bahkan saat tertidur pun, yang buat gue panik sendiri. Nah balik ke permasalahan gak percaya diri bangsat ini, dan sering membuang kesempatan.
Mungkin, kalau dulu gue gak menyiakan kesempatan atau setidaknya konsisten. Bisa saja draft novel-novel sok tau yang jelek itu bisa terselesaikan bahkan sebelum gue kelar SMK. Atau bisa saja draft blog yang udah gue hapus dari blog ini, selesai dan bisa jadi buku lagi sewaktu SMK ataupun Kuliah dulu.
Tapi, enggak. Gue gak menyelesaikan, gue cari pelarian-pelarian lain yang malah membuat gue sangat jauh dari tempat awal. Sangking jauhnya, gue gak tau harus mulai dari mana lagi. Dulu, mungkin gue bisa aja nulis apapun tanpa harus berpikir "Kalau gue nulis ini, ada yang merasa tersinggung gak ya, atau ceritanya gak sama persis dengan apa yang dia alami?" Gak ada tuh, pemikiran mikirin apa kata orang.
Yang ada, tentu ego sentrik yang berpikir bahwa semua yang gue rasakan adalah perasan valid dan harus gue tuangkan dalam sebuah cerita konyol nan membingungkan. Sekarang, kalau gue harus baca tulisan-tulisan blog gue yang masih terbit atau udah jadi draft yang gue tarik, gue hanya bisa berpikir "Kok, bisa ya? Dulu sempet berpikir hal-hal semacam ini layak untuk gue tulis dan bagikan?"
Dan, sekarang di usia yang tentu gak lagi muda. Usia-usia yang harusnya udah bingung hidup ini mau dibawa kemana. Gue hanya bisa melihat seorang pecundang yang belum menemukan jalan hidupnya. Orang yang cita-cita dan impian nya selalu terlalu tinggi tapi tidak setinggi aksi dan nyali yang dia punya. Gagal sekali, udah gamau mulai lagi.
Rentetan, impian semu yang kini meminta pertanggungjawaban itu entah bagaimana nasibnya. Si bodoh yang sempat bermpimpi bisa a, bisa b. Akan buat c, buat e. Atau sekedar membahagian dirinya sendiri. Mimpi yang masih belum bisa dia upayakan hingga detik ini. Berdamai dengan dirinya pun tak mau, bagaimana bisa menjalani hari tanpa rasa hampa yang seiring berjalan nya waktu hanya menjadi pengganggu.
Jujur ajalah, selama sepuluh tahun kebelakang. Si anak bodoh itu, tak ada perubahan berarti dalam hidupnya selain orang-orang yang meninggalkan nya silih berganti, entah termakan usia, karena tak lagi satu tujuan yang sama, atau tuhan mungkin menyelamatkan mereka agar tak lagi berinteraksi dengan orang yang sama sekali tak mau perubahan hadir dalam hidupnya.
Bukannya, berubah untuk sesuatu yang dirinya sendiri. Ia seringkal melakukan untuk seseorang, dari sok nulis buku lah, bikin puisi yang jatuhnya catatan tanpa arti. Atau buat podcast hanya untuk membunuh rasa sepi dan pensaran nya akan dunia yang tak pernah bisa ia gapai. Sepuluh tahun yang sia-sia, dengan tahun-tahun yang sebenarnya bisa digunakan untuk hal-hal yang berguna, upgrade diri misalnya. Baik fisik, batin, maupun akal.
Yang dia lakukan? Oh tentu, berpikir akan ada keajaiban yang menyelamatkan nya. Bodohnya, dia berpikir ini adalah game yang bisa disimpan dan diulang sesuka hati. Naas, walaupun hidup seperti game, tak ada jalan kembali ataupun pengulangan. Jalannya bisa saja sama, namun prosesnya akan jauh berbeda. Maka, kembali lagi ke dirinya sendiri. Akankah si bodoh larut dalam semua penyesalan semakin lama, apakah sepuluh tahun adalah waktu yang kurang baginya menyadari, menyia-nyiakan potensi dan kesempatan hanya untuk lari dari masalah?
Atau mulai berpikir, bahwa hidup harus ditata ulang kembali. Setidaknya, kini dia harus tau bahwa kesempatan harus dikejar, bahwa percaya diri itu perlu. Dan rasa percaya kepada diri sendiri, harus lebih besar dengan atau tanpa dukungan dari siapapun.