Untuk mereka yang bisa menerima apapun kesalahan yang pernah diperbuat, keren sih. Kayaknya, gue belum tentu bisa. Berdamai sama diri sendiri aja sulit, apalagi nerima kesalahan orang lain kalau itu udah fatal. Maafin tentu, tapi bukan berarti bisa memaklumi kan?
Entah naif, atau hanya sulit menerima fakta bahwa mereka-mereka ini yang udah membuat kesalahan fatal dalam hidupnya kok bisa ya dapet orang yang menerima mereka apa adanya. Apa nilai atau konsekuensi yang harus ditukar dengan itu? Apakah, cukup karena manusia bisa berubah dan perubahan tersebut sudah cukup meyakinkan bagi kita dan yaudah dia mengakui kesalahan nya, dia udah gak gitu lagi, mungkin waktu itu lagi bodoh. Yaudah.
Tapi, kadang gue juga mikir jangan-jangan mereka yang melakukan kesalahan ini bisa saja terpaksa, terpengaruh, takut atau kala itu masih dikendalikan dengan rasa kepercayaan yang begitu besar kepada seseorang hingga mengorbankan diri sendiri. Kebanyakan yang gue tau sih, tentu karena jadi korban semu harapan yang dipupuk rapi oleh rasa cinta dan kasih sayang.
Banyak loh, orang keblinger hanya karena mencintai seseorang, sayang sama orang tersebut sampai rela kasih apapun bahkan harga diri yang paling berharga. Dan ini berlaku ke keduanya, cowok dan cewek. The worst scenario bisa terjadi di kedua belah pihak, gak melulu soal materi, waktu ataupun something more than that.
Mengingat pergaulan sejak era gue SMP pun, udah seperti itu. Gue gak kaget, hanya selalu bertanya-tanya saja. Orang-orang yang gue temui nih, ternyata menyimpan seribu satu masalah masing-masing dalam hidupnya, ada beban yang mereka pikul setiap harinya dari masa lalu yang belum usai itu.
Dari traumatis kejadian lampau, atau sesederhana takut untuk percaya dan memulai lagi. Ini udah ditahap yang cukup parah sih. Gue, melihat hal-hal semacam ini sepanjang perjalanan gue menuju dewasa dan masih terus geleng-geleng kepala melihat semua kejadian yang harus gue dengar, saksikan atau bahkan mengetahuinya langsung dari mereka yang akhirnya buka suara.
Kalau, sumber informasinya dari orang yang cukup dekat dan curi dengar. Gue kadang masih skeptis, karena tentu gue gak bisa judge begitu saja. Orang dianya baik kok, setidaknya ketika bertemu dan berinteraksi dengan gue. Nah, kalau udah nyaksiin sendiri beda cerita. Kadang, gue akan coba kontak dan approach personal serta ngasih tau permasalahan yang sedang terjadi. Berharap dia nya gak kaget, tentu gak secara langsung.
Terakhir kali, itu menimpa ke salah satu teman yang gue kenal dan kebetulan melakukan kesalahan fatal yang gue maksud disini. Gue sampe bikin akun anonim, hanya untuk memberitahu bahwa something did happens dan kala itu gua dapet informasinya tentu tak lain tak bukan Twitter laknat.
Ah, platform burung satu itu tuh. Emang bajingan, dari semua kasus selalu ada aja disana. Itu padahal 2016-17. Tapi, setelah gue tau sekarang dia udah bahagia, hidupnya udah dipenuhi teman-teman yang peduli dan sayang sama dia. Plus, dapetin orang yang akan selalu ada dan support dia, gue ikut senang sembari bertanya. Kalau gue kayak gitu, diposisi itu? Apakah bisa, gue gak yakin.
Kecuali gua melakukan kesalahan yang serupa, meski tak sama tapi fatal juga. Impaslah, gue gak sebegitunya sepertinya menjadi manusia yang sangat bisa berlapang dada. Udah sih, itu aja yang gue mau ceritain. Takut melebar kesana-kemari dan kalian juga gak ngeh permasalahan dan kesalahan apa yang gue bicarakan, clue nya tentu sesuatu yang udah dimaklumi dan dijadikan hal atau kesalahan biasa dalam hubungan asmara. Seolah, itu memang aman-aman aja bila terjadi. Setidaknya, bagi kebanyakan teman-teman gue sih gitu. Walau gak semua temen gue adalah pelaku, ada yang korban dan terpaksa.
Dan, itu yang buat gue selalu bertanya; kenapa orang kadang salah dalam menaruh hati, perasaan dan kepercayaan mereka? Sampai jatuh di pelukan orang yang salah, memanfaatkan keadaan untuk kesenangan sesaat. Bagi, gue di era digital ini tentu banyak ruginya. Kecuali, harusnya gak ada kecuali sih. Tapi, mengingat banyak temen gue yang pintar dalam bermain peran, serta sama-sama player. Bagi, mereka yang benar-benar pemain gak akan pernah sesumbar atau bahkan mendokumentasikan kesalahan yang mereka perbuat.