Ah f# lah.

Emang lebih ke nggak mau ngadepin realitas aja.
Di umur dua puluh lima tahun, mungkin orang tua kita dulu udah berhasil dapetin kerjaan pertamanya, atau malah udah nikah dan menikmati masa-masa berdua, ada yang mungkin masih struggle nemuin passion, atau bertemu jodohnya.

Intinya, dulu di umur segitu. Orang tua kita, juga sama kok nggak tahu mau mereka apa, nggak bener-bener yakin dengan pilihannya, tapi yang berbeda dengan kita saat ini. Adalah analisis berlebih dan perhitungan resiko yang berulang kali diulang dalam kepala lagi, dan lagi.

Di dunia yang udah faktap ini, jangankan buat kepikiran romansa ataupun nikah, bisa hidup aja keknya udah bersyukur. Ampun deh. Gue jadi bertanya-tanya, orang tua gue dulu mungkin udah punya gue nih si kecil yang hadir dalam kehidupan mereka, hidup mereka juga nggak mulus-mulus tapi diusahakan terus.

Lah gue, di umur dua lima ini, tanpa kerjaan tetap dan ketakutan berlebih akan ekspetasi yang dibangun sendiri. Mikir lagi dan lagi, gue harus apa? Apalagi setelah kemarin harus bertemu realita, bahwa tempat di mana gue tumbuh, udah bener-bener nggak bisa gue selamatkan lagi.

Memang akan selalu ada harapan, dengan menutup mata. Nggak peduli dengan yang terjadi, tapi hati kecil gue akan selalu tahu kalau sistem telah dibangun, ada sesuatu yang bener-bener dirancang untuk merobohkan kita dari dalam. Perlahan namun pasti. Tanpa kita sadari, bisa berdampak ke diri kita.

Gue pikir, pemikiran gue tuh dulu udah yang paling faktap. Sejak pandemi gue jadi terlalu menarik diri, menimbang-nimbang tanpa aksi nyata. Padahal, di awal-awal kuliah gue sempet jadi orang yang begitu tampak bahagia meski nggak yakin dengan pilihan-pilihannya tapi setidaknya gue di tahun-tahun itu punya banyak hal yang bisa gue ceritakan.

Sekarang, lima tahun berselang. Gue cuman penonton yang mencoba merangkum apa yang terjadi dalam hidup gue sejak covid datang. Ancur. Rasa percaya diri yang nggak pernah ada itu, melebur jadi ketakutan paling besar yang harus gue hadapi. Mencoba meyakinkan diri bahwa semuanya bakalan baik-baik aja. Coba dulu, tabrak aja dulu. 

Tapi, yang ada kalah lagi-kalah lagi. Bukan kalah karena keadaan, tapi kalah dengan diri sendiri. Ah faklah. Gue yang selama ini ragu-ragu mengambil langkah harus bisa menentukan posisi, dan posisi gue saat ini perlu gue untuk berlari. Sedangkan, gimana bisa gue lari. Kalau selama ini gue nggak pernah nyoba menghadapi masalah yang ada, gue pikir lari bukan lagi solusi.

Yang harus gue lakukan, melawan monster yang gue ciptakan. 'Ketakutan akan kegagalan.' Takut kalau semua nggak akan pernah kesampaian. Takut kalau gue hanya bisa mengecewakan. 

Posting Komentar

© #NoteAdit - Aditya Bintang Perdana. All rights reserved. ##