Melihat banyaknya masalah yang kita punya, kadang kita berpikir kalau masalah-masalah ini hanya kita aja nih yang ngerasain, nyatanya enggak. Meski nggak mirip tapi ternyata beririsan.
Hari ini gue dengerin beberapa cerita orang tentang pengalaman dan keresahan pribadi mereka masing-masing, tentang orang yang hanya ingin merasakan gimana menjalin sebuah hubungan tapi harus berhadapan dengan cowok yang ternyata parasit, atau royal diawal tapi ternyata pas putus minta semua yang dikasih dibalikin.
Terdengar aneh, tapi semakin gue denger ceritanya, muncul berbagai pertanyaan di kepala 'Kok bisa yak, maksud gue untuk bisa pacaran, harus ngorbanin diri sendiri terjebak dalam hubungan yang ampas' umur dia yang cerita ini juga nggak muda ataupun tua banget, kemungkinan awal 20 tahunan, mengingat dia adalah angkatan kuliah 2023.
Selain cerita tentang bagaimana orang mencoba-coba demi bisa merasakan sebuah hubungan, ada yang baru kenal sebulan tapi udah bingung apakah dia ini tertarik dan mempertanyakan hubungan yang sedang dijalani tuh sekedar temen atau lebih dari itu. Hadirnya orang baru membuat hubungan yang awalnya intens, jadi merenggang. Maksud gue, bukannya memang polanya begitu ya? Terus kalau nih si cewek ini yang terlihat muda, di ceritanya dia bahkan belum bertemu langsung, tatap muka. Tapi udah bisa mempertanyakan 'Kita ini apa' dan dia bahkan bingung bagaimana menyikapinya, apakah dia bener-bener suka atau apa.
Bagi gue yang mendengarkan, gue takut dia hanya kesepian dan kebetulan cowok inilah yang dengerin dia, ngertiin dia. Ketika cowok ini menjauh dia ngerasa bahwa ada yang hilang, lalu mempertanyakan hal yang sebenernya terlalu dini untuk dipertanyakan.
Berlanjut ke cerita anak 16 tahun yang curi dengar obrolan mereka yang memang blangsak aja, pengakuan dosa dan apalah itu. Gue dengerin gimana dia nyeritain pengalaman nya menguping seolah-olah tau apa yang terjadi dalam cerita yang dia dengar itu. Ampun, maksud gue kenapa sih harus menceritakan hal-hal yang harusnya disimpan untuk pribadi, apalagi menyangkut sesuatu yang harusnya bukan menjadi konsumsi publik.
Akibatnya? Tentu anak umur 16 tahun mengetahui hal-hal yang seharusnya nggak usah dia pikirin, bahkan pusingkan. Tentang kelakuan mereka yang begitu brengsek jika terus didengarkan. Hal yang membuat gue cukup menahan tawa, adalah bagaimana dia menceritakan dengan nada bicara yang mengundang gelak tawa.
Usai dia bercerita, ada anak SMA yang bercerita bahwa dia udah keluar masuk psikolog bahkan pskiater karena perundungan yang dia alami, karena teman-temannya yang nggak mau mengerti, atau bahkan terkesan memanfaatkan keadaan, semakin mendengar cerita-ceritanya yang menyedihkan itu, membuat gue dan teman-teman yang mendengarkan ikut larut dalam perassaan sedih, marah yang bercampur jadi satu.
Ada ya, orang yang bisa melakukan hal-hal begitu karena muncul rasa iri terkait materi yang dimiliki sang anak atau hidupnya yang berkecukupan. Yha, iri itu nggak salah dan manusiawi. Yang membuatnya salah adalah dengan menjadikannya alat untuk membenci atau bahkan menggunjingkan orang lain, kalau misalnya dia salah ya kasih tau, kalau misalnya nggak mau temenan yaudah jangan dimanfaatin.
Terakhir, cerita dari cewek yang udah mengharapkan hubungan ke arah serius namun berakhir tanpa kepastian. Dia yang baru sadar bahwa hidup jauh lebih luas dan nggak harus selalu berwarna. Dia yang berkata telat menyadari di umur yang tak lagi muda, menurutnya. Bagi gue, harusnya nggak ada kata terlambat. Gue pun demikian, sepuluh tahun adalah waktu yang harus gue tukar untuk segala penyesalan yang mendera, segala keputusan bodoh yang sampai kini bahkan gue tanyakan berulang kali sebelum menutup hari.
Dan anehnya, ini semua adalah cerita-cerita yang random. Mereka yang gue curi dengar ceritanya hari ini dengan sengaja adalah orang-orang yang gue nggak pernah ketemu sebelumnya. Bersembunyi dibalik avatar game dan suara yang beragam. Setidaknya, malam ini gue menjadi teman dengar cerita mereka yang mungkin terkesan receh, tak penting.
Untuk mereka mau, dan bercerita aja itu udah satu langkah berani. Berani memberitahu orang asing, bahwa ada permasalahan yang lagi mereka hadapi dalam hidup, entah terkait percintaan, diri sendiri, atau menanyakan kenapa semua ini terjadi. Hal yang begitu wajar untuk dibicarakan.
Gue makin sadar, orang hanya butuh ceritanya di denger. Udah itu aja, nggak perlu feedback kalau nggak diminta, nggak perlu di judge ataupun direspon berlebih. Cukup kasih reaksi dan tanggapan yang sewajarnya.
Cuman ya, ternyata mendengarkan cerita orang membuat kita juga merasakan emosi-emosi yang menguras energi. Haha, ya itu aja sih gue cuman mau cerita itu hari ini.