Pagi Itu

Hanya kesedihan yang diam-diam menua di sudut pagi yang sama.

Pernahkah kau terbangun suatu pagi,
lalu bertanya pada diri sendiri:
“Kenapa pagi ini begitu sepi?”

Tahun-tahun berlalu,
waktu demi waktu tersapu
oleh serangkaian peristiwa
yang kau harap tak pernah terjadi,
yang kau ingin sekadar bunga tidur
yang tak abadi.

Namun naas,
keinginanmu tak bertemu realita.
Pagi itu kau terbangun dan menemukan:
bahwa dunia yang dulu kau kenali
tak lagi mengenalimu.
Ia tak lagi menyapamu.

Suara yang dulu kau benci tiap pagi
kini justru paling kau rindukan pagi itu.
Sapa hangat yang dulu terasa basa-basi
jadi sapa yang tak lagi bisa kau ucap.

Sesak.
Sesak.
Sesak.
Yang kau dapati hanyalah sesak.
Air mata enggan menetes,
perasaan yang tak bisa kau ungkapkan,
bepata sedih harimu pagi itu.

Tak pernah kau sangka, 
bahkan terlintas, bahwa ada yang kau rindukan
dari hal-hal sederhana:
melihatnya duduk, termenung,
mendengarkan radio tua sepanjang hari.

Kini, tak ada lagi sosoknya.
Tak ada lagi suara radionya.
Yang ada hanya bangku kosong,
dan radio usang yang nyaris berdebu.

Senyummu pagi itu getir,
merindu pada sosok yang tak mungkin kembali.
Merindu pada kehadiran
yang kini hanya tinggal kenangan.
Merindu yang tak pernah bisa kau peluk lagi.

Posting Komentar

© #NoteAdit - Aditya Bintang Perdana. All rights reserved. ##