Sekadar Mencoba

Entahlah, setidaknya mencoba.

Setelah dua bulan penuh hiruk pikuk dengan penyesuaian perpindahan kota ini. Gue jadi merasa dalam rasa sepi yang gak bisa gue namai. Sepi yang bukan kesepian. Melainkan gue kehilangan rutinitas sosial yang gue punya. Gak ada temen cerita, gak ada seseorang yang gue percayai untuk tau apa yang harus gue keluhkan hari itu.

Tapi, yaudah gak apa juga. Lagi berusaha untuk gak terlalu oversharing ke orang random. Mungkin ke lo semua yang lagi baca gak apalah ya. Kan dari dulu gue udah consent kalau nyeritain aib gue sendiri ini. Yang why tho? Hahaha.

Setelah mencoba berkali-kali untuk mengurangi rasa perfeksionis, gue cukup berhasil di awal hari. Dua kali lah gue mampu melakukannya meski gak sempurna. Dua hari setelahnya, hehe, kembali ke stelan awal. Tapi setidaknya sekarang datengnya mepet ke kantor. Alias gak jam setengah sepuluh udah nyampe kantor aja, sekarang jam sepuluhan lah.

Kalau ditanya kenapa, ya mungkin karena guenya pengen setidaknya jam tidur gue usahain bagus. Walau kenyataannya, ini aja gue lagi nulis jam satu pagi. Mana bagusnya?

Kemarin pun abis kelar pulang kerja, bukannya kerjain freelance job yang selama ini menyelamatkan gue, guenya malah scrolling Twitter sampe akhirnya ketiduran jam dua pagi. Bangun jam tujuh, malah memutuskan tidur lagi dan bangun jam sembilan. Mandi doang, abis itu tidur lagi. Kayak gue capek yang gak bisa terelakkan sampai akhirnya bangun jam satu siang karena laper.

Abis itu bukannya kerjain freelance, malah nontonin YouTube. Mencoba memberikan semangat ke diri sendiri, dan akhirnya cek-cek konten yang harus gue unggah dan gue buat hari ini. Tapi itu pun gak bertahan lama sampai akhirnya gue doom scrolling lagi.

Kayaknya gue harus punya rutinitas ketika libur kerja untuk memutus rantai kemalasan ini. Asli, gue harus punya. Kalau enggak, akan gini-gini terus jadinya.

Barusan pas mau tidur sih ada gempa kenceng banget kerasa di kos, ternyata pusatnya di Pacitan. Kayak jauh gitu. Kapan lalu juga gitu di kantor kerasa banget gempa. Layar komputer di meja kubikel gue udah goyang. Tapi yaudah, gue cuek kerjain lagi di saat orang berhamburan keluar menyelamatkan diri.

Sekarang tiap pulang ke kos dan jalan kaki, temen gue ya hanya musik. Atau pikiran gue yang ke mana-mana. Memikirkan kerjaan gue yang kok susah banget kelar cepet dibandingkan temen-temen gue. Ternyata emang pace gue beda aja. Atau guenya yang terlalu banyak ngantuk di kantor, dan kedinginan yang ngebuat gue pengen tidur.

Entahlah. Yang jelas otak gue lagi gak di sana. Gue emang kerja, tapi otak gue nih mikir ke mana-mana yang bikin gue gak fokus.

Kayaknya sih itu aja yang mau gue ceritain, haha. Boring dan gak ada yang baru. Tapi setidaknya gue mau ngeluarin apa yang ada dipikiran ini aja sekarang. Karena masih banyak draft yang sebenernya banyak ceritanya tapi gak gue kunjung tulis-tulis juga.

Posting Komentar

© #NoteAdit - Aditya Bintang Perdana. All rights reserved. ##