Dan kau mulai tak tahan lagi,
Ini bukan pertama kalinya kepalamu penuh sesak,
Serasa ingin meledak.
Apakah ini bom waktu yang bisa kapan saja membunuhmu?
Perlahan namun pasti, kau mulai terbawa arus dunia.
Mencoba bertahan dan terus melawan,
Namun apa daya, kau tak sanggup juga.
Sebisa mungkin kau lawan arus itu,
Namun semakin jauh pula kau terbawa.
Derasnya arus tak terasa,
Sampai akhirnya kau hanyut dalam heningnya malam.
Kini, hanya bayang sepi dan lamunan panjang tentang kehidupan yang tersisa.
Lalu, ke manakah kau harus berjalan?
Kembali melawan arus yang sama,
Yang telah membawamu pergi jauh, menyingkir dari kehidupan dunia,
Atau memilih menerjang kembali, sampai kau berhasil melewatinya,
Hingga akhirnya kau temukan apa yang selama ini kau cari.
Sampai saat itulah kau tersadar akan suatu hal.
Bahwa hidup ini tak seperti yang kau bayangkan.
Lelah, letih, tangis, serta tawa bersatu dalam kegelapan malam.
Kau terdiam sejenak,melihat ke langit nan jauh di sana,
Masih ada bintang-bintang bertebaran, ditemani sang rembulan.
Setidaknya kau tidak sendirian, menyusuri gelapnya jalan kehidupan.
Desir angin menghapus amarahmu terhadap dunia yang selama ini kau benci.
Dalam gelap, kau masih ada di sana, mencari arti hidup yang sesungguhnya.
Entah sudah berapa kali kau tersesat di hutan dan jalan yang sama,
Namun kaki-kaki itu tak bosan berjalan, menyusuri jalan setapak kecil
Yang mulai memudar terkikis zaman.
Letih pun tak kau hiraukan, semua itu hanya bualan.
Kau tertawa sekeras mungkin,
Tanpa sadar, kau menertawakan dirimu sendiri.
Lalu kau berteriak dalam jiwa yang sepi,
Dan menangis sejadi-jadinya.
Mengadu pada Sang Pencipta,
Bahwa kau ingin menemukan jalan keluar.
Sampai akhirnya, kau hampir putus asa.
Semua terasa mengambang,
Namun kau berhasil melewatinya.
Dalam gelap malam itu,
Kau membunuh rasa takut dan bencimu pada dunia.
Kau berhasil melawan derasnya arus dunia,
Di gelap malam itu kau mencoba berlari sekencang mungkin.
Tanpa menoleh ke belakang,
Entah apa yang sedang kau hindari,
Namun tanpa disangka, kau berhasil melewati hutan
Dan jalan setapak kecil yang selama ini menyesatkanmu.
Lalu setelah semua ini,
Kau bersyukur kepada-Nya.
Karena dari sini kau tahu,
Bahwa problema hidup adalah
Pelajaran penting yang takkan kau lupakan.