Gak Semuanya Butuh Penutup

Sudahi pengandaian semu, mulai jalani hari meski tak selalu mulus jalannya.
Barusan gue ngobrol sama orang random, bener-bener random. Dia cerita kalau baginya nggak ada yang bisa diceritakan dari hari-harinya, monoton, nggak menarik dan lain sebagainya. Itu yang sempat gue alami bertahun-tahun lamanya, sampai gue sadar kalau hidup nggak berputar di gue aja. Ada kehidupan yang tetap berjalan meski gue menganggap hidup gue stuck dan nggak berjalan.

Hidup orang lain tetap berjalan, banyak yang tetep mengusahakan versi terbaiknya setiap hari demi menghadapi tuntutan ekspetasi dunia terhadap diri sendiri. Gue merasa seperti orang bodoh yang memberi opini dari pengalaman gue yang nggak seberapa tentang perasaan.

Gue memposisikan diri tentu sebagai cowok yang sempat menjadi orang yang selalu menghindari potensi romansa ketika sudah terlalu dekat, hanya karena tidak pernah begitu yakin dengan keputusan yang akan dibuat, takut mengulangi kesalahan yang sama hanya karna nggak pernah dapet jawaban dari rasa kehilangan yang pernah gue alami.

Tapi bukan berarti gue nggak sadar, gue adalah orang yang begitu menyebalkan bagi banyak orang, gue sadar akan itu, bahkan gue aware dengan keputusan-keputusan yang gue ambil, yang bahkan merugikan orang lain dan diri gue. Obrolan berlanjut tentang dia yang bilang kalau apa yang gue rasakan harusnya nggak perlu berlanjut ke penasaran, kalau ketakutan-ketakutan gue hanya ada di kepala doang, yang memang betul dan baru bisa gue hadapi setelah gue merelakan.

Yang pasti, malem ini gue dapet POV dari orang lain, khususnya cewek. Dalam menghadapi orang yang mungkin kayak gue. Orang yang memilih untuk menarik diri ketika ada kemungkinan kedekatan yang lebih dari temen. Hanya karena, takut dengan ekspetasi sendiri. Siapapun pasti capek, menghadapi orang seperti itu.

Tapi cerita dia pun nggak kalah menarik, dia yang merasa hidupnya menjadi flat karena orang yang jadi teman bertukar ceritanya udah nggak setertarik itu dengan cerita-cerita kesehariannya dan mengakibatkan dia menutup diri, dan mengulang hari seperti yaudah biasa aja. Gak ada yang spesial, banyak cara udah dicoba tapi lagi-lagi nggak ada yang bsia mengobati rasa hampanya.

Dengan bodoh gue hanya mencoba memberi saran yang tanpa diminta itu, berkaca pada hal yang terjadi di gue, memilih untuk menuliskan semua keresahan gue baik di jurnal atau blog. Intinya gue lebih sering memainkan what if dalam kepala, atau berbicara dengan diri sendiri demi mengatasi rasa kebosanan dari repetisi kegiatan sehari-hari.

Mencoba mencari-cari kesalahan demi kesalahan yang mengarah kepada kondisi gue kala itu, dia nggak harus melakukan hal persis sama kek gue yang mengamati semua hal di sekitar gue hanya untuk mencari tahu kesalahan gue selama ini apa. Gue cuman bilang ke dia hadepin aja rasa takutnya, rasain sedihnya, rekam aja obrolan dia dan dirinya sebagai pengingat, kalau memang nggak bisa bercerita melalui medium text atau tulisan.

Lucunya, kata-kata yang muncul dari dia pun menyadarkan perilaku-perilaku gue yang memang kekanak-kanakan. Berpikir bahwa kalau gue nggak boleh salah dalam hal apapun, termasuk perihal perasaan. Karena dari dulu gue berpikir harus setidaknya cukup, atau pantes bagi orang lain, tapi gue nggak ada usaha nyata untuk itu.

Atau gue yang mencari-cari alasan untuk menghindar pada potensi-potensi romansa yang ada, hanya karena gue yang tidak percaya diri, merasa kalah saing dengan apapun yang ada. Skenario yang gue mainkan, ya gue adalah orang yang kalah dan diakhir film menderita. Padahal itu semua hanya ada di kepala gue aja, belum terjadi. Seolah akhirnya gue memanifestasi skenario itu menjadi nyata.

Memang aneh kalau dipikir-pikir kita bisa bertukar pikiran dengan orang random sekalipun dari pertemuan sesaat, karena oversharing berlebih satu sama lain yang dipaksa oleh keadaan, hanya karena rasa percaya bahwa kita bukan teman melainkan hanya kenalan, asing dan mungkin aja nggak akan ketemu lagi. Maka bisa untuk memilih bertukar cerita paling personal sekalipun, meski tidak mengenal satu sama lain.

Mempercayakan cerita-cerita yang menyedihkan untuk diingat agar saling terbagi, dan menertawakan keputusan bodoh yang diambil, setidaknya bagi gue sih begitu. Gue nggak mempertanyakan dia yang akhirnya menjadi tidak mau terbuka lagi ke seseorang karena rasa trauma dia yang terlalu bergantung dengan orang lain.

Dan dia pun juga nggak menilai gue orang yang tidak percaya diri dan menarik diri/avoidant dengan potensi kedekatan, kita sama-sama mengakui bahwa yang dilakukan adalah salah dan perlu pertolongan.

Gue hanya kasihan dengan tiga orang lain yang mendengar percakapan kami malam ini, meski mereka pun bercerita hal yang serupa walau tak sebanyak gue atau dia porsinya. Gue hanya merasa melihat diri gue di dia pada tahun-tahun tertentu, dan gue nggak mau dia mendapati hal yang sama. 10 tahun bagi gue sangat cukup untuk belajar mengenali diri, dan kesalahan yang gue buat di masa remaja.

Saat ini tugas gue berbenah, mengenal lebih dekat siapa Adit di umur 24 - 27 tahun nantinya ini, sebelum bersiap menuju ke umur kepala tiga. Gue harus bisa keluar dari zona nyaman yang gue buat, dari tembok yang gue bangun begitu tinggi hanya karena gue takut untuk terluka lagi. Padahal ada atau tidak adanya tembok pun, gue tetep terluka atas keputusan-keputusan yang gue buat, dan kebodohan-kebodohan yang gue lakukan sepanjang sepuluh tahun kebelakang.

Di mana korbannya lebih banyak gue sendiri, dan orang-orang di sekitar gue yang harus dengan sabar menghadapi orang yang terkadang menarik diri dan nggak mau berbaur itu. Larut dalam dunianya sendiri, merasa bahwa hidupnya tidak berjalan ke mana-mana, bagaimana bisa hidupnya berjalan kalau dia menyabotase jalan hidupnya sendiri dengan tenggelam ke dalam penyesalan dan kesedihan yang berlarut-larut.

Satu hal yang gue ambil dari obrolan gue dan dia, si cewek random malam ini adalah. Kadang tidak adanya penutup bagi sebuah cerita, adalah penutup itu sendiri. Nggak perlu tahu kenapa semuanya harus berakhir. Nggak perlu mencari tahu alasan dan kesalahan kenapa berakhir, toh kalau memang harus berakhir ya berakhir, orang memang akan datang dan pergi, kita harus siap akan itu.

Gue pun juga bilang hal yang sama ke dia, bahwa tugas kita hanya mengenali diri sendiri, belajar dan menjalani hari, percaya dengan diri sendiri adalah kuncinya. Kalau kita bisa percaya kepada orang lain, percaya pada ketidakpastian dalam hidup. Kenapa kita nggak bisa percaya dengan diri sendiri? Hanya karena pernah dikecewakan oleh keputusan yang kita ambil sendiri.

Hidup kita lebih berharga, dan waktu nggak pernah nunggu untuk kita berubah. Kita yang harus gerak, kita yang harus sadar kalau kita perlu berubah bukan demi orang lain, melainkan diri sendiri.

Posting Komentar

© #NoteAdit - Aditya Bintang Perdana. All rights reserved. ##